Kamis, 31 Desember, 2009 Ia Dibuat Lemas; Jumat 1 Januari, 2010 Ia Dibuat Terhempas; Sabtu, 2 Januari, 2010 Ia Dibuat Terlepas; Di Pusara Ayahanda Ia Dibuat Tak lagi Cemas…
Apa yang bisa disimpulkan oleh seorang perempuan berusia matang atas fakta fakta berikut ini?:
1. Ia pernah mendapat kiriman kartu valentine dari seorang anak laki laki teman sekelasnya saat es em pe sekitar dua puluh lima tahun silam. Ya, 25 tahun lalu;
2. Ia tak memberikan respon kepada si pengirim kartu lantaran di usia belasan yang masih segar gemegar itu, hanya urusan sekolah saja yang ada di kepalanya hingga tak sedikit pun terpolusi untuk urusan di luar itu;
3. Ia menganggap kartu itu hanya sekedar keisengan seorang bocah ingusan terhadap teman sekelasnya belaka; tak ada apa apa di situ;
4. Ia sepenuhnya tak pernah mengingat rentetan episode kecil di atas dan hidup mengikuti garis tangannya; mengukir asmara dengan dua tiga orang yang sama matangnya dengan dirinya. Tapi kedekatan itu tak satu pun membuahkan janur kuning melengkung baginya;
Flu Gurita: What (So) You Know or What (So) You Don’t Know?
Gurita tiba tiba naik daun hingga menyebabkan banyak orang terkena flu jenis baru.Ya, flu gurita namanya! Kenapa bisa begitu, jawabnya semua orang sudah tahu dan karenanya, saya tak perlu mengulanginya lagi seperti kaset rusak yang berisikan lagu lama yang itu itu juga. Yang jelas, dampak dari kegaduhan terbaru itu adalah segerobak besar pro kontra di mana masing masing pihak merasa argumennya paling benar dan lebih sahih. Mereka yang pro bilang, buku yang ditulis oleh doktor lulusan Cornell itu adalah bagian dari upaya demokratisasi, transparansi dan sekeranjang si-si lain yang bisa ditambahkan sendiri oleh siapapun dan layak dijunjung tinggi di era reformasi sekarang. Adapun mereka yang kontra berujar bahwa tulisan itu tak lebih dari upaya memfitnah dan membunuh karakter sang nomer satu di negeri ini berikut klan keluarganya secara umum.
Mana yang benar, saya sungguh tak bisa menentukan. Apa motif pasti penulisan buku itu saya gelap belaka. Apa latar belakang dan latar depan kemarahan sang King of Cikeas itu pun terasa sumir buat orang awam seperti saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah mereka reka, mengira ngira barangkali begini atau begitu dan itu sebatas pemahaman saya pribadi sebagai jelata yang nirkepentingan. Kalaupun ada, maka kepentingan saya cuma satu saja: ingin tahu mengapa istilah yang dipilih kok gurita… ya gurita…
Mother, How are You Today? Here is a Note from Your Son… With Me Everything is not Okay!
MBOK BINGAH sering mewanti wanti kepada putranya agar ia diperkenankan dan diantarkan pergi ke Masjid Agung di alun alun utara— sekali lagi— pada setiap acara Sekatenan. Sekali lagi… sekali lagi… dan lagi. Begitu terus sampai yang mengantar bosan. Untuk apa? Hhmm… Untuk menyaksikan acara puncak yang sering disebut sebagai Grebeg Mulud. Permintaan perempuan tua yang gemar menyirih itu selalu membuat anaknya, Mangil, kerepotan. Betapa tidak, karena kebiasaan itu, ia jadi mesti menyiapkan berbagai hal mulai dari mencari tumpangan ke kota bagi sang ibu sekaligus anak beranak dari keluarga yang dikepalainya, membantu menyiapkan bekal makanan dan minuman yang dibuat istrinya serta bersiap siap untuk begadang semalam suntuk. Yang ibunya mau, sekeluarga—sak brayat— anak cucunya itu ikut ke acara tersebut.Tidak bisa tidak!
‘Apa Simbok ndak bosan setiap tahun ke acara itu?’ tanya Mangil pada suatu sore kepada ibunya, sekembalinya ayah tiga anak itu mengikuti rapat di balai desa soal penanganan hama wereng yang belakangan ini kembali melanda sawah sawah milik penduduk desa.
‘Husyy! Ngil, jangan sembarangan ngomong, kowe. Itu sudah tradisi tahunan. Kok seperti ndak tahu saja!’ balas yang diajak bicara dalam bahasa Jawa, sambil menambahkan bahwa satu satunya maksud menghadiri peringatan yang digelar pada dua belas Mulud itu adalah untuk mencari kelapangan hidup atau Ngalap Berkah.
‘Berkah ada di mana mana, Mbok! Bukan cuma dari Gunungan Mulud yang sekedar tumpukan berbentuk piramid berisi kue apem, aneka makanan dan sayur sayuran seperti itu,’ sergah ayah dari Langgeng, Kinyung dan Apik dengan air muka agak berang.
‘Yo, wis! Kalau kowe ndak mau nganter Mbokmu, aku bisa ke sana sendiri,’ tandas si ibu seraya memuntahkan sisa kunyahan sirih ke dalam sebuah kaleng plastik sisa kue kering.
Mangil menghela nafas dan mencari alasan sebisanya. Katanya, ‘Bukan begitu, Bu. Aku cuma ndak mau Ibu angin anginan semalaman karena lek lekan sampai pagi di emperan masjid. Lagipula, Apik kan belum boleh terlalu sering kena angin malam,’ ujar laki laki yang sehari hari bekerja sebagai tenaga honor di kelurahan dan beristrikan seorang perempuan desa yang saban siang kulakan aneka jajan pasar di depan stasiun.
‘Mbokmu ini sudah tua, Ngil! Belum tentu tahun depan masih keparingan umur panjang,’ katanya pendek. Kali ini sambil menyuapkan lagi sirih baru ke mulutnya yang sudah dipenuhi keriput dan bercak bercak hitam tanda penuaan yang kentara di sekitarnya.
Kalau sudah kalimat sakti seperti itu yang diucapkannya, Mangil cuma bisa pasrah. Kalah. Geram. Sekali lagi saja, desisnya. Ya, sekali lagi saja, pokoknya…
*
Cinta 24 Karat Plus Lampu Wasiat: Kala Yang Lama Digantikan oleh-Nya dengan yang Terbaru dalam Sekejap!
Kalau perhiasan murni sering disebut sebagai emas 24 karat, maka cinta murni pun barangkali 24 karat pula ukurannya. Sejauh ini, kata para ahli, ada empat macam cinta meliputi: cinta asmara atau eros, cinta anak terhadap orangtua dan sebaliknya atau filia, cinta antarteman atau storge dan terakhir, cinta manusia kepada Tuhan atau agape. Kesemuanya itu, saya pikir, tidaklah dapat berdiri sendiri dan justru saling memperkuat dan mengisi satu sama lain.
Banyak bukti yang memperteguh betapa keempatnya bukan sekadar komplemen satu terhadap yang lain. Para seniman, novelis dan cerpenis telah menjadikan keempat jenis cinta itu sebagai sumber keindahan bagi karya karya mereka yang bernas dan tidak akan pernah kering sampai kapan pun, laksana sumur yang terus memancarkan air kendati setiap hari puluhan bahkan ratusan hingga ribuan liter ditimba darinya.
Semakin ke dasar, warna air akan menjadi semakin bening. Dan begitu pun cinta: semakin mendalam justru semakin terasa kerelaan dan kejernihannya; bukan keterikatannya seperti yang selama ini sering salah kaprah digembar gemborkan bahwa manifestasi cinta adalah memiliki. Bukan, bukan itu. Manifestasi cinta adalah justru memberi. Benefit apa yang bakal didapat dengan banyak memberi? Hhmm… tepatnya apa, manalah saya tahu karena pastilah kasuistis sifatnya. Tapi yang jelas, benih kebaikan tak akan pernah mati sia sia, begitu kata rohaniwan dari berbagai agama, tanpa kecuali.
Berikut kisah yang saya dengar cukup detil dari seorang teman baik saya terkait hal itu:
*
Ibu Bahagia Kala Sang Putra Terlahirkan Kembali dan Bersahabat dengan Orang Kerdil Sang Pengantar Surat
Beberapa abad silam, seorang ksatria yang mahir menggunakan pedang tengah merasa jenuh dengan pekerjaannya sebagai algojo. Selama ini, apa yang dilakukannya setiap hari tak lain tak bukan hanyalah sebagai pelaksana eksekusi hukuman mati yang mendapatkan titahnya langsung dari sang raja. Ia bagaikan robot jaman sekarang yang melakukan pekerjaannya laksana mesin belaka: tanpa hati dan tanpa kendali diri karena mekanis semata. Kebengisannya terkenal ke seluruh negeri dan setiap terhukum mati yang tahu dirinya bakal berhadapan dengan algojo bertubuh tinggi besar dan bermata galak itu, pastilah kecut hatinya.
Sang ksatria itu sendiri dalam kesehariannya diketahui bersikap dingin, tegas, lugas dan dominan. Meskipun usianya masih tergolong muda, namun tanggung jawab berat yang diembannya sebagai algojo sedikit banyak telah membias kepada kepribadiannya. Memang, dalam setiap tugasnya, ia mesti memastikan bahwa orang yang ia pancung harus langsung mati dalam satu kali tebas saja!
Ibunya adalah satu satunya orang yang kepadanya ia tak bisa lantang bersikap seperti itu. Bak kerupuk terguyur air, serta merta sang ksatria akan bersikap lemah lembut dan segera luluh kepada keinginan perempuan tua yang melahirkannya itu.
Sayangnya, satu satunya permintaan sang ibu yang belum bisa dipenuhinya adalah memberinya cucu. Ya, putranya semata wayang itu masih lajang dan nampaknya belum berminat mempunyai istri. Atau barangkali karena kebanyakan perempuan di negeri itu ngeri dengan sepak terjang dan tak pernah berharap mempunyai suami bertampang dingin seperti anaknya? Entahlah mana yang benar, sang ibu tak pernah mencoba mencari tahu.
Lord and Love along The Way: Ada Tuhan dan Cinta dalam Nikmatnya Pecel Itu!
Seorang nenek yang tengah asyik bercengkerama dengan cucunya pada suatu pagi di libur panjang menjelang akhir tahun berkata, ‘Cucuku, maukah kau kuberikan kunci emas untuk hidup yang selalu tenang, senang dan berkelimpahan?
Sang cucu, gadis usia dua puluhan yang baru saja menyelesaikan kuliah dan mulai mencari cari pekerjaan itu menjawab, ‘Pasti, Nek, pasti. Aku mau. Cuma jangan yang susah susah dan memangkas kebebasanku sebagai orang muda ya, Nek!’ tegasnya.
Jawab perempuan tua berkaca mata yang kini menjadi anggota dewan penyantun sebuah yayasan yatim piatu itu, ‘ Ya, pastilah itu. Aku pun dulu pernah muda sepertimu. Tenanglah, yang mau Nenek katakan kepadamu sebenarnya simpel belaka dan keningmu tak perlu berkerut kerut saat mendengarnya.’
Sebelum kuberikan rahasia ini kepadamu, aku hendak bercerita tentang hidupku. Ini jujur dan tak ada yang kututup tutupi. Ketahuilah, katanya, sepanjang hidupku, sejatinya, aku tak bisa digolongkan sebagai orang saleh karena terus menerus berganti agama. Buyutmu dulu adalah orang yang rajin menjalankan ibadah lima waktu plus amalan sunnah, puasa dan pergi haji. Aku pun beragama itu dari sejak dilahirkan dan bahkan sempat menjadi ustadzah cilik selama beberapa tahun. Terkenal hingga kabupaten maupun propinsi, aku berdakwah ke sana ke mari demi mensyiarkan namaNya.
‘Tapi jalan hidup ternyata tak bisa ditebak. Menjelang usia dua puluh, aku berkenalan dengan seorang pemuda seberang yang gagah namun lembut hatinya. Aku jatuh cinta dan begitu pun dirinya. Kendati sadar ada benteng besar keyakinan yang membatasi kami, aku nekad menerobosnya dan memutuskan menikah dengan pujaan hatiku itu,’ ungkapnya seraya pelan pelan menyusut air bening yang muncul di ujung ujung mata tuanya.
*
Kala Langit Merah Lazuardi dan Gendis Adi Teguh Merengkuh Impian Tertinggi Mereka
Adzan subuh belum lagi berkumandang ketika seorang perempuan muda menggeliat dan mulai membuka mata dari tidurnya yang tak bisa dibilang lelap
Beranjak perlahan dari peraduan dan mengendap endap agar buah hatinya tak sampai terbangun, ia membereskan botol botol susu kotor anaknya yang dibiarkannya terserak sepanjang hari yang gelap
Perempuan yang masih keturunan darah biru itu pun lantas keluar kamar dan dimulailah hari baru dengan tugas pertama: mencuci semua botol dan dot bayi serta mensterilkannya di dalam panas uap
Dengan cara sesederhana apapun, bayiku harus selalu terjaga kebersihannya agar ia bisa tumbuh optimal, begitu batinnya berkata kerap
*
Mematikan kompor dan meniriskan semuanya, ia bergegas wudhu untuk mendirikan shalat subuh,
Dua rakaat saja ditambah dzikir dan doa doa pembuka pintu langit yang berisi permohonan agar sang bayi kelak diantarkan oleh Sang Bijak untuk menjadi dokter bedah usus yang trengginas dan kukuh
Sebab cuma itulah satu satunya harapan sang Ibu setelah ayah si bayi yang tentara tewas dalam tugas kala pada suatu patroli di pedalaman Irian, ia terkena peluru nyasar hingga membuatnya koma dan tak pernah bisa sembuh
Pergi menghadap Sang Keabadian, meninggalkan istri dan putra semata wayang, yang sekalipun belum pernah melihat sang ayah yang bernama Adi Teguh
*
Primadona Luka: Cantrik Nyai Woro Asih yang Bernyanyi Sengau di Pinggir Kolam Bersama Sahabatnya
Sekolah Dasar Negeri Layung Sari tengah bersiap siap untuk mementaskan sebuah pertunjukan drama anak anak berjudul Timun Emas dalam rangka perayaan kenaikan kelas. Selain dihadiri para orangtua maupun wali murid, tradisi tahunan yang selalu digelar sehari setelah pembagian raport itu juga mengundang mulai dari pejabat dinas pendidikan dasar, camat setempat, kepala desa sampai para sesepuh yang tinggal berdekatan dengan sekolah tersebut.
Acara biasanya dimulai pukul sepuluh pagi di panggung yang didirikan di halaman sekolah, yang di bagian tengahnya terdapat pohon trembesi tua berdaun lebat dan rindang. Para tamu yang datang dipersilakan duduk di kursi kursi yang telah disediakan setelah mengisi buku tamu dan menerima jatah sekardus kecil makanan ringan yang berisi tiga potong kue dan segelas air dalam kemasan.
Dua bulan sebelum acara itu, kesibukan mulai terasa. Murid murid kelas tiga sampai kelas enam berlomba lomba agar bisa terpilih menjadi salah satu pemain dalam drama yang bakal digelar itu. Karena masih kecil dan dianggap belum mampu menghafal dialog, murid murid kelas satu dan dua tidak dimasukkan sebagai mereka yang bakal dipilih. Biarkan mereka menonton pergelaran yang digelar oleh kakak kelas mereka, begitu kata Bu Fajriah, kepala sekolah yang ramah dan gemar mendongeng itu.
Seorang murid kelas lima bernama Ambar sangat ingin terpilih sebagai tokoh utama dalam drama Timun Emas kali ini. Bocah berambut keriting asli, berkulit langsat dan berjari lentik itu memang sudah sejak kelas dua tertarik menjadikan seni, khususnya menari dan bermain peran sebagai hobinya.
Ini lantaran ayah dan ibu gadis cilik itu adalah pekerja seni yang memiliki padepokan tempat banyak seniman berkumpul dan mengembangkan bakatnya. Ayah Ambar juga piawai mendalang dan kerap diminta menunjukkan kebolehannya pada berbagai acara, termasuk pada malam 1 Suro baru lalu saat ia memainkan lakon Banjaran Arjuna semalam suntuk. Kalau ayahnya adalah bintang dalam pertunjukan wayang kulitnya, maka Ambar pun beranggapan ia harus menjadi bintang pula dalam drama di sekolah!
*
Tarawih Hours: Forgive My Foolness, Lord!
Saya baru selesai tarawih malam ini di rumah adik saya. Tinggal satu kali lagi tarawih besok malam dan usailah sudah ritual sunnah di bulan Ramadhan kali ini. Saat saya kembali ke rumah, menyusuri jalanan di daerah perkampungan tempat tinggal saya, beberapa mesjid serta mushola terlewati dan saya lihat barisan shalat makin maju alias makin sedikit orang di sana. Sebelumnya tadi di jalan raya, saya melewati mall dan di situ orang penuh sesak. Kontradiktif sekali, tapi ya memang begitu adanya. Barisan orang yang dulunya tarawih sekarang eksodus ke mall. Itu fenomena biasa, kata banyak orang. No wonder, no bother. Betulkah?
Do Me a Favour, Do Forgive Me: ‘Minal Aidin wal Faidzin’, Happy Idul Fitri!
Kurang dari 24 jam lagi Ramadhan akan berakhir berganti Syawal. Kesibukan menghadapi Lebaran terus memuncak, hampir semua orang berburu kebutuhan menghadapi Idul Fitri yang akan dirayakan hari Minggu ini. Begitupun saya, ikut larut dalam kegiatan itu. Sambil berjalan jalan di mall siang ini, benak saya dipenuhi pikiran ini itu, mulai dari urusan pribadi, urusan rumah, urusan kantor sampai urusan negara dan dunia (dua yang terakhir cuma basa basi diangetin dan gak ngaruh, kali ya?) Toh, keduanya tidak secara langsung berdampak kepada diri saya.Tapi, masak sih, gak ada pengaruhnya sama sekali? Saya berusaha mencari jawabnya sambil iseng mencoba sepotong blus warna hijau berkerah shanghai, yang menurut saya kemahalan harganya!
Ketupat, Opor dan Kacang Bawangpun Ikut Lebaran!
Finally, pemerintah memutuskan Idul Fitri jatuh besok, Minggu, 20 September. Saya dan ibu saya bersyukur untuk keputusan yang diambil itu, namun dengan dua alasan yang berbeda: Ibu saya gembira karena jerih payahnya seharian berada di depan kompor, merebus ketupat, memasak sayur santan kacang panjang, opor, ayam goreng,emping dan rengginang dapat segera disantap besok, first thing in the morning sebelum shalat Id; sementara saya merasa lega karena besok dan seterusnya bisa dengan bebasnya menyantap semua makanan dan kue kue yang bertebaran di mana mana. Apa salah kalau saya ingin memanjakan diri sejenak dengan memakan apapun yang saya suka setelah sebulan berpuasa? Toh, saya tak punya masalah berat badan. Eh, tapi kok…hmm…tiba tiba saya merasa bodoh dan kecil karena lebih berfikir soal makanan ketimbang acara silaturrahmi besok. Gak pa pa juga, kali, setahun sekali ini, desis saya dengan yakin.
Serpihan Silaturahmi: I’m in Pieces for Two Reasons!
Berbagai hal unik, lucu, norak, membahagiakan, menyenangkan dan bahkan mengenaskan saya temui dalam gelaran silaturahmi Idul Fitri hari ini. Curhatan dan keluhan saya dengarkan sepanjang hari mulai dari mereka yang masih anak anak, ABG, dewasa dan juga dari beliau beliau yang telah sepuh. Sepintas, aneka suara dan ekspresi itu saya bagi dalam tiga kategori utama, yaitu: soal demam tanggok menanggok angpao untuk anak anak, eksibisi dadakan gadget ‘berry berry’ (maksudnya gadget yang Black Berry looking…hehee) untuk remaja dan dewasa muda serta keluhan makin susahnya hidup dewasa ini sementara badan semakin nggreges dan gampang sakit untuk para sepuh kita. Semua patut didengar, semua layak ditanggapi. Ibu saya mengeluhkan khatib shalat Id yang justru panjang lebar berbicara soal teroris ketimbang makna Idul Fitri. Oh, my Goodnes!
Lost in Paradise, Lost in Wonderland: Senjakala Babad Smara Anggita
Sambil memutar lagu lagu milik Styx, saya melepas lelah setelah seharian menjalani silaturahmi hari kedua Lebaran. Menimbang- nimbang apa yang akan saya lakukan besok, saya termenung cukup lama saat CD memutar lagu berjudul Paradise. Saya kembali teringat sahabat baik saya, Anggita, yang pagi pagi sekali tadi sudah menelpon saya, melantunkan curhat betapa di Idul Fitri kemarin, seharian ia menunggu telpon masuk ataupun pesan singkat dari orang yang pernah dekat dengannya. Hatinya nelangsa karena sebuah paradoks yang telah digumulinya empat tahun belakangan: separuh hati Anggita sadar bahwa ia sudah tak lagi berhubungan dengan orang itu, sudah jalan masing masing, case closed! Namun sisi hatinya yang lain masih mengharapkan perhatian, masih menapaki rel yang itu itu juga. Di mata saya, sonata Anggita masih sama, masih seperti dulu: Surgaku Hilang, I lost My Paradise. ‘Jangan menghakiminya, support saja dia, perintah hati saya. Hhmm…’Your wish is my command, jawab benak saya!
Jingga Idul Fitri: Karpet Merah untuk Kiky, Kencana Wingka Kami
Melanjutkan tidur usai sahur untuk menjalani puasa sunnah hari kedua dari enam hari puasa Syawal, pagi ini saya dikagetkan dengan ketukan di pintu kamar tidur saya. Ibu saya memanggil manggil dan meminta saya segera keluar. Ada apa sih, masih jam segini, batin saya seraya bergegas membuka pintu sambil mengikat rambut. Cepet telpon adikmu sana! Suruh dia dan Kiky boyongan ke sini hari ini juga, perintah ibu saya. Saya terperangah. Allaahuakbaar! Kaget sekaligus bersyukur. Wow, ada miracle apa pagi pagi di sini, gumam saya. Berkah Idul Fitri-kah? Ya, barangkali. Selama ini ibu keras menolak adik dan keponakan bayi saya itu tinggal di rumah besar kami karena satu alasan: Kiky bukan cucu yang diidam idamkan ibu saya! Lho, kok bisa begitu. Memang kenapa?
Just for Madam Ina: We Love You, Full!
Apa yang paling sulit di masa masa liburan, terutama Idul Fitri seperti sekarang? Apa yang paling jawara di balik suka cita Lebaran? Apa yang jadi most wanted kala ini? Jawabnya cuma satu dan hampir pasti semua orang setuju: batur atau pekerja rumah tangga! Syukurlah, di rumah kami, mulai hari ini, hal itu sama sekali bukan masalah karena Madam Ina atau Mama Ina sudah kembali menyingsingkan lengan bajunya. Bersama kami selama hampir lima tahun, sejatinya ia menjadi tumpuan saya, ibu saya dan almarhum ayah saya dalam menjalani hari hari. Dialah yang menemani ayah saya nyaris selama 18 jam tanpa jeda sebelum ayah saya berpulang. Kami menghormati Madam Ina. Tak berlebihan kalau saya menyebut ia adalah our family treasure, milik kami yang berharga dan tak tergantikan. Sebangun saya pagi ini, saya berucap, ‘Madam Ina, binvenue, bonjour!’
Welcome to a Fabulous Life Community, You are Invited!
Keluhan apa yang paling sering terdengar hampir dari mulut setiap orang? Topik rumpi apa yang selalu hot dan menggairahkan untuk dibahas? Mengapa beberapa TV belakangan mulai mempunyai program seputar motivasi? Apa yang diajarkan oleh semua kitab suci namun banyak orang , termasuk saya, lupa mempraktekkannya? Sepanjang malam tadi hingga subuh ini, benak saya riuh rendah terfokus ke sana. Saya tergerak mencari jawabnya, setidaknya untuk diri saya sendiri. Setelah semua yang saya usahakan dalam kehidupan ini, mengapa selalu masih saja ada dua hal yang tersisa: ketidakpuasan dan kekhawatiran di sudut hati saya, dalam bentuknya yang beragam? Saya tertohok melihat burung burung di udara, ayam ayam di depan rumah dan cicak cicak di dinding. Meski tak pernah menanam ataupun menenun, mereka tetap bisa makan dan tidak resah. Inikah analogi sederhana yang diberikan Sang Pemilik Kehidupan untuk menjawab rasa tidak puas dan khawatir dalam diri saya selama ini?
Sambel Jelantah, Kwaci plus ‘Here and Now Secret’ Kala Hujan
Menu makan malam saya malam ini istimewa sekali. Di meja makan terhampar nasi putih hangat, sambel jelantah( cabe bawang merah diuleg lalu disiram dengan sedikit minyak goreng bekas menggoreng), telor dadar setebal satu centi yang dicampur , lagi lagi, dengan irisan halus cabe dan bawang merah, ditambah tahu goreng cina plus emping. Wah, ini kemewahan besar buat saya dan saya makan lahap sekali. Saya hssh…hssh…kepedesan tapi tangan saya tetap saja mencolek sambel dan saya totol totol ke nasi agar lebih nyampur. Sungguh suatu berkah yang sempurna dan saya sangat menikmatinya. Sehabis makan, kenikmatan itu masih berlanjut: saya mengambil kaleng kecil sisa permen dan mulai mengunyah kwaci bunga matahari. Dengan skill mengupas kwaci yang sudah saya kuasai, sebentar saja kaleng itu penuh kulit kwaci. Waduh, kalau sudah begitu, siapa yang mau membantah kalo hidup ini memang sungguh indah? Saya berani taruhan! Hehee…
All Come for Reasons: Titiang Nunas Pangampura, Segala Sesuatu Indah pada Masa-Nya!
Acara selapanan Kiky usai menjelang bedug dzuhur dan rumahpun sudah kembali bersih dan rapih. Satu dua kerabat masih asyik ngobrol dengan ibu di teras depan, termasuk saya yang tengah ngerumpi ngalor ngidul dengan Greta, sepupu saya yang meski berusia sebaya, namun tampak lebih matang. Saya menikmati cerita Eca, begitu ia biasa dipanggil, setelah sekian waktu tak bertemu. Banyak sisi kehidupan Eca yang patut saya ambil hikmahnya, termasuk keberaniannya dulu untuk menikah muda dan kini menjadi single parent plus usahanya untuk mandiri dari sisi finansial. Greta, buat saya, adalah simponi tentang perempuan muda yang dengan gigih dan gagah menghadapi dunia. Satu kalimat yang paling bagus untuknya adalah, all come for reasons!
Gurame Asem Manis, A Simple Thought on Maria Ozawa and Doraemon
Pagi masih gelap ketika saya mulai bersih bersih rumah. Masih belum pukul enam tapi saya sudah menyapu mulai dari halaman depan dan terus ke ruang dalam. Ini acara mingguan saya: menyapu, mengepel, membuang sampah dan mengelap perabot. Tiap hari Minggu, Madam Ina selalu datang di atas pukul sepuluh karena ia dan ketiga anaknya melakukan ritual terlebih dulu, ikut misa pagi di gereja. Beres dengan itu, saya mandi setelah sebelumnya menyikat ubin kamar mandi agar tetap keset dan tidak licin. Selebriti sensasional Jepang Maria Ozawa alias Miyabi akan bertandang kemari minggu depan, kata berita yang saya baca tadi malam; dan apapun yang sedikit gak biasa di sini, as always, selalu menimbulkan pro kontra. Ini pasti akan berlalu…Ini pasti akan berlalu, batin saya. Pendapat saya sendiri? Oh, itu sama sekali gak penting karena saya bukan siapa siapa. Tapi, saya lebih memilih Doraemon yang datang, kalo bisa.
Blast from The Past dan Tari Serimpi bagi Jiwa Jiwa yang Lapang
Ada yang protes terhadap tulisan tulisan di blog saya ini. Katanya, postingannya gak ada isinya dan gak jelas maunya apa. Nulis tuh yang pasti pasti aja. Yang pasti dilihat, yang pasti dicari dan yang pasti dibaca. Gak usah aneh aneh deh. Saya mencerna dan bertanya, apakah aneh kalau saya sekedar menuliskan apa yang ada di benak saya, menuliskan pandangan, pendapat ataupun celoteh saya terhadap kejadian yang kebetulan saya alami, saya temui dalam keseharian saya? Apakah yang namanya sekedar menulis catatan ringan, jurnal atau apapun yang sifatnya rada subjektif sama sekali gak layak baca? Wah, andai saya punya ibu peri yang bisa dengan mudahnya menyulap labu jadi kereta kencana. Andai saya bisa meminta ibu peri membantu saya membuat tulisan yang selalu bisa diterima oleh setiap orang. Tapi saya timbang timbang lagi dan memutuskan itu gak perlu. Bukankah dengan adanya masukan seperti protes atau apapun namanya berarti setidaknya ada yang membaca tulisan saya? Lalu, seperti biasa, I take one hundred percent responsibility dan saya sungguh berterimakasih atas protes itu.
Fresh Air for Blessed Soul, Fresh Water for Restless Body
Sambil mendengarkan lagu lagu tahun 80 dan 90 an dari YouTube, saya mencari info seputar pemadaman listrik hari ini akibat terbakarnya gardu induk di Cawang, kemarin. Alhamdulillah, daerah saya tak termasuk di dalamnya dan semoga hal ini tak berlarut larut sehingga merepotkan banyak pihak. Di ujung libur panjang yang hanya tinggal berbilang jam lagi, saya mendapat kabar bahwa bulik bulik saya siang ini akan berkunjung ke rumah pascalebaran. Saya juga mendapat satu kalimat di buku pinjaman yang pagi ini saya baca, katanya, setiap hari setiap orang, setiap kita, termasuk saya bisa membuat kehebatan sehari hari, everyday greatness, yang jauh dari publisitas, sunyi dari gegap gempita pujian khalayak dan tak kan jadi tajuk berita utama media. Saya bertanya sebelum membaca lebih jauh. Masak sih orang seperti saya, yang gak sabaran, gak telaten dan gak populer gini bisa mencipta sebuah kehebatan. Tulisan orang yang lagi ngelindur, gumam saya sambil menutup buku yang baru tiga halaman saya baca dan bergegas minta dibelikan nasi kuning oleh Madam Ina untuk sarapan.
Pray for Our Nation, Pray for Our West Sumatera: Do Help Us, Lord!
Bangsa ini kembali dirundung duka. Belum sebulan rasanya gempa bumi berpusat di Tasikmalaya mengguncang Jawa, kembali hal serupa terjadi di Padang, Sumatera Barat, sore ini. Sebanyak 75 orang dinyatakan tewas, 75 orang luka parah dan diprediksi terus bertambah. Ratusan ribu rumah hancur. Kota itu luluh lantak, gelap gulita bak kota mati, kata breaking news yang saya lihat di tivi. Saya menekurkan kepala dan berdoa agar musibah ini dapat segera teratasi. Saya juga ikut berduka cita, menghaturkan belasungkawa dan mendoakan mereka, para syahidin, mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya. Bagi yang selamat dan menjadi papa karena kehilangan sanak saudara ataupun harta bendanya, saya berharap agar mereka mendapat pertolongan yang layak dari berbagai pihak, tidak saja selama masa tanggap darurat, tapi juga setelah masa tersebut usai. Meski benak saya riuh rendah ke sana kemari, I am speechless mengingat betapa negeri ini terus menerus didera kemalangan. Tak perlu menyalahkan siapapun, cuma itu yang ada di hati saya di tengah kegalauan ini.
Batik Uber Alles, Indonesia Uber Alles, But Let Brazil Be The Winner!
Seharian kemarin, saya menikmati pemandangan yang tidak biasa namun patut diacungi dua jempol sekaligus. Betapa tidak, dari pagi hingga petang dan hampir di setiap sudut jalanan, saya melihat kebanyakan orang berpakaian batik. Banyak juga yang menambahkan pernak pernik maupun aksesoris batik mulai dari tas, ikat pinggang, sepatu sandal hingga bandana bermotif batik. Memang, kemarin, 2 Oktober adalah hari dimana batik dari negeri ini dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya internasional, sebagai reminder kepada warga dunia bahwa batik identik dengan Indonesia dan Indonesia identik dengan batik. Indonesia bukan negeri sembarangan. Ia bukanlah negeri di mana kemalangan berebut untuk pentas. Justru ia adalah negeri di mana kesempatan untuk berbuat baik tumbuh subur di mana mana. Mungkin tidak ada salahnya kalau kemarin dijadikan sebagai hari batik. Sama tidak ada salahnya kalau kemarin akhirnya International Olympics Committee, IOC, menetapkan Brazil sebagai tuan rumah olimpiade 2016! Brazil sungguh fantastik. Sefantastik batik dan sefantastik negeri ini. Those are great, puji saya dalam hati.
Love and Affection: Every Cloud Has A Silver Lining, Can You See Yours?
Menghabiskan sisa sisa weekend kali ini, siang tadi saya pergi ke twenty one bersama sahabat saya dan memilih untuk menonton film drama He is Just Not That in To You. Dari judulnya, sudah terbaca temanya. Ya, soal pergumulan perempuan di setiap fase kehidupan cintanya. Empat perempuan dengan empat problema cintanya masing masing, yang menurut saya begitu manusiawi, babak belur dan tidak dibuat buat. Seperti flash back, saya melihat gambaran diri saya dalam dua atau tiga problema tersebut. Di setiap fase itu, ibarat anak sekolah yang setiap tahun menerima raport kenaikan kelas, saya berani mengatakan bahwa raport saya itu jelek nilainya. Isinya cuma kursi terbalik melulu alias angka empat. Dulu saya tertatih tatih menjalaninya. Kini, setelah masa itu lewat, saya terkagum kagum menyadari betapa waktu sungguh sebuah obat mujarab untuk semua kemalangan batin. Tapi, kesadaran itu baru datang belakangan; baru datang setelah saya tak lagi memburunya! What took it so long, what a fool I’ve been…
One Day When Grandma Says, ‘Everyone Wants to Go to Heaven, But No One Wants to Die’
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah sore tadi, saya temui di perempatan ataupun lampu merah beberapa mahasiswa atau mahasiswi mengenakan jaket kampusnya membopong bopong kardus bekas bertuliskan ‘Sumbangan untuk Gempa Sumatera Barat’. Menganggukkan kepala atau mengetuk kaca mobil, mereka meminta perhatian para pemakai jalan untuk ikut memberikan sumbangan ala kadarnya bagi anak anak negeri yang tengah tertimpa bencana. Kendaraan di kanan saya menanggapi dengan membuka sedikit kaca dan langsung tersenyum sambil mengayunkan tangannya mengisyaratkan maaf. Sementara orang di mobil sebelah kiri saya, sama sekali tak bereaksi. Kedua pembopong kardus itu tak sempat menghampiri saya karena lampu hijau telah menyala. Saya bergumam, semoga kardus itu cepat terisi penuh. Saya percaya banyak orang berhati mulia di negeri ini, yang mau menyisihkan sekeping receh atau selembar ribuan, barangkali juga lima atau sepuluh ribu atau malah seratus ribu. Jangan seperti yang saya lihat kemarin di muka kasir bioskop: beberapa orang komplain dan misuh misuh hanya karena ada tambahan sumbangan PMI seribu perak. Andai saya ibu peri, akan saya buat mereka jadi patung saat itu juga. Andai saya Doraemon, akan saya sulap agar semua uang di dompet mereka berubah menjadi batu. Jahat? No, I don’t think so…
Here I am, The One That YOU Love: A Quick Answer Through Mamah Dedeh
Dalam tempo kurang dari 10 jam sejak tadi malam hingga pagi ini, saya dikejutkan oleh dua hal. Pertama, sekitar pukul sepuluh malam tadi, teman saya, tepatnya teman kursus di kelas penerjemahan yang kami ikuti dulu , tiba tiba menghubungi saya setelah tujuh tahun hilang tanpa kabar berita. Saya kaget, ia masih menyimpan nomer telpon geggam saya. Wow! what a nice shot… Kedua, belum pupus keterkejutan itu saat saya membuka mata subuh tadi, saat saya iseng setel TV, saya mendapati Mamah Dedeh menohok saya dengan kalimat ‘kalau kita berdoa, buka dan angkat tangan kita tinggi tinggi. Jangan kayak orang males yang ogah ogahan mengamini doa dengan tangan terbuka hanya ditempelkan di pangkuan.’ Di kedua kejutan itu, saya tertohok bogem mentah, terkena tinju telak dengan alasan yang berbeda beda. Membuka handphone yang semalam saya silent, sebuah pesan mengagetkan datang dari seseorang dari masa lalu saya yang sudah saya lepaskan sejak enam tahun terakhir, siapa lagi kalo bukan sang bos. Dikirim pukul satu dinihari tadi dan katanya, ‘Halo, apa kabar? Masih ingat aku kan, masmu? Aku ke Jakarta siang ini dengan penerbangan jam 10. Kamu mau kan makan malam sama saya? Ayolah, kita masih bisa berteman. Apa bukan begitu?’ Saya kaget, tambah tertohok dan ingin melempar hape jadul itu. Saya geleng geleng kepala bergumam apa lagi ini, some kind of bad temptations or such a miraculous thing in the morning? Not know for sure. So, sekarang saya mendapat tiga pukulan dalam tempo kurang dari sepuluh jam! Tohokan atau pukulan? Bukan, lagi. Itu justru kado yang dibungkus dengan kertas berlumpur, kata hati saya. Waduh segitunya!
An Afternoon With Intip and Bapak Jenggot: A Learn from Diandra’s Piggy Bank
Seorang teman yang telah lebih dari sepuluh tahun ikut suaminya ke Belanda mengirim pesan di inbox Facebook saya siang ini. Ia meminta saya membelikan intip untuk kemudian memaketkannya hingga ke pintu rumahnya. Tahu kan apa itu intip? Itu lho, cemilan khas Jawa yang terbuat dari sisa sisa nasi yang susah diambil karena keburu jadi kerak dan tertinggal di pantat panci saat menanak nasi. Kerak itu dikerok, lalu dijemur sampai kering betul dan setelah itu digoreng kering. Ditiriskan sebentar lalu diperciki sedikit garam di atasnya sebelum siap disajikan. Rasanya? wah, jangan tanya: crunchy, gurih dan gak mau berhenti sebelum isi toples tandas, licin cin, pokoknya. Cuma di mana di Jakarta ada nyamikan kampung begitu, pikir saya. Selagi melamunkan intip, tiba tiba berita di tivi menayangkan banyak korban gempa yang terpaksa menjarah bantuan di posko posko bencana karena hingga hari ini mereka sama sekali belum mendapatkan perhatian dan uluran tangan. Kasihan dan ironis, desis saya sambil menyeduh teh anget dan mulai menggigit sepotong beef pastry. Ini juga sama ironisnya, kata saya memarahi diri sendiri. Tahu orang di sana nyari mie instant aja susah, saya kok enak aja liat berita sambil ngunyah. Apa tidak sebaiknya intip pesanan teman saya itu saya kirim ke Padang, tanya saya dalam hati. Duh, Padang, kenapa begitu pedih nasibmu?
Cinta Segi Enam: So Many Questions, Not Enough Answers
Sudah hampir jam sebelas ketika saya sampai di rumah malam ini. Memang agak kemalaman karena saya keluar, hang out ala kadarnya, ngopi sambil ngobrol ngalor ngidul dengan teman saya selepas dari posko gempa di daerah Matraman sore tadi. Saya merasa puas dengan kompensasi yang diberikan oleh alam atas batalnya saya menonton Air Supply. Dan teman saya itu sungguh sebuah berkah. Melihat ke belakang pertemanan kami, saya dan dia lumayan akrab sampai ibu dan adik adik saya pun mengenalnya cukup baik. Ia sering jedal jedul ke rumah. Sekitar Mei lalu, saya dan dia plus beberapa teman lain pergi weekend ke Bandung. Berangkat dari sini, sama sekali gak ada bayangan kalau kami berlima bakal gila gilaan sampai Lembang dan semalaman menjajal semua makanan di kota kembang itu. Mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa. Mulai dari serabi yang diolesi oncom sampai bakso keju. Mulai dari kelas resto sampai kelas emperan. Girls have fun pokoknya. Girls? Ya. Tanpa pernah bermaksud mengotak-ngotakkan diri, pergaulan memang pada akhirnya mengerucut. Yang single lebih enak sharing sama yang single, sementara yang udah double dengan sendirinya berkelompok dengan sesamanya. Segmentasi peran barangkali ya, atau apa? Wah gak tahu juga pastinya. Yang jelas lima orang dalam satu mobil waktu itu, kelima limanya statusnya sama sama sendiri dengan alasannya masing masing. Membuka pintu, saya termangu melihat fakta betapa hidup memang tak bisa disama samakan untuk setiap orang. Ada relnya sendiri sendiri, ada ceritanya orang per orang. Tak ada satu pun dari kisah kisah itu yang sama…
Look Before We Leap, Sometimes Truth is Stranger Than Fiction!
Banyak berita menarik hari ini. Di negeri sendiri, beberapa yang menjadi sorotan antara lain, kabar Aburizal Bakrie yang terpilih menjadi ketua umum baru partai yang kalah telak pada pemilu April lalu, persidangan perdana ketua nonaktif lembaga bersih bersih korupsi, kolapsnya puluhan perguruan tinggi di Jawa Tengah sampai ancaman bakal terjadinya hujan deras diikuti banjir di selatan Jakarta dalam minggu minggu ini. Sementara dari CNN dan Time, saya mendapati sejumlah headlines seperti empat gempa besar berskala di atas tujuh skala Richter bersusulan hanya dalam tempo sebelas jam mengguncang Pasifik Selatan, topan Melor yang membawa dua korban di Jepang, Obama yang baru akan tahun depan berkunjung ke sini sampai pengumuman penerima Nobel kimia yang kali ini jatuh kepada tiga ilmuwan biologi molekuler, yang satu di antaranya adalah orang India yang berkarir di negeri Paman Sam. Dari yang sekian banyak itu kasus Antasari sungguh menjungkirbalikkan nalar dan mengoyak nurani, kata seorang kawan saya. Saya baca detil dakwaan jaksa di sebuah situs dan, masyaallah, kalo itu benar, betapa sesaknya hati anak dan istri sang mantan jaksa itu. Jadi bahan tertawaan audiens di ruang sidang. Apa ia pernah ngimpi bakal duduk di kursi pesakitan begitu? Ccckk…ccckk…Gila bener. Kayaknya novel juga gak gini gini amat deh jalan ceritanya, celetuk teman di meja sebelah saya! Kita makan aja yuk, pusing dengerin yang gituan, ‘ ujarnya sambil menepuk bahu saya. Ya, ayolah, emang udah jam makan siang, jawab saya singkat.
The Search is Over: Beauty is Everywhere, Beauty is How You Feel Inside!
Sebuah majalah wanita di Jerman dua hari lalu memutuskan bahwa ke depan, mereka tidak akan lagi menggunakan model bertubuh kutilang alias kurus tinggi langsing sebagai cover ataupun foto foto di halaman fashion mereka. Sebagai gantinya, majalah itu akan mengambil perempuan biasa biasa saja tapi memiliki sesuatu yang bisa menjadi inspirasi bagi diri maupun kepribadian pembaca mereka. Majalah itu membuka pintu lebar lebar bagi ketidaksempurnaan fisik dan mengunci rapat rapat pintu kesempurnaan lahiriah perempuan; mengundang setiap yang berminat untuk mendaftar. Dan respon pun mengalir deras dalam waktu sangat singkat, sejauh ini sudah ada 600 kandidat yang mengirimkan foto dan curriculum vitae mereka. Saya antusias membaca kabar dari CNN itu hingga hanya membaca sekilas bahwa kemarin dua teroris kembali digrebeg dan diberangus; keduanya kini mengikuti jejak sang mentor yang telah terlebih dulu diselesaikan sepak terjangnya pada tiga hari menjelang Lebaran kemarin. Apa kesamaan dari kabar kabar itu? Ya, semuanya sama sama melegakan dan sungguh sebuah prestasi. Both are fantastic with their own reasons!
Everything is Good in Its Season, Just Be Ready!
Saat ditawari sebuah ajakan untuk berbisnis oleh teman, apa hal pertama yang muncul di dalam benak? Saat dikatakan hanya dibutuhkan modal di bawah sepuluh juta untuk memulai sebuah bisnis, apa reaksi yang muncul di kepala? Saat ajakan itu ternyata berujung pada bisnis jaringan atau multilevel marketing, MLM, apa yang bakal terlintas di otak? Itulah yang terjadi pada pada saya siang ini di sebuah outlet bakso di mall. Di tengah hujan deras yang mengguyur Jakarta lepas dzuhur tadi, saya memenuhi janji bertemu dengan teman kursus yang sudah tujuh tahun lenyap tiada kabar berita. Saya mendengarkan presentasi berapi api sang business coach yang dibawa oleh teman saya itu. Mengaduk kuah bakso setelah menambahinya dengan kecap, saos dan sambel, sesekali saya mengiyakan dan sering juga menidakkan apa yang dikatakan sang mentor. Pada dasarnya, saya terbuka pada hal hal baru. Ada dua hal yang saya ingin tahu dari ajakan itu: apa worst case scenario bila saya ikut bergabung tapi tidak mau repot berpromosi dan bagaimana seseorang yang tidak banyak omong seperti saya akan berhasil di tengah pusaran networking yang hampir seratus persen awalnya bertumpu pada upaya menggaet orang sebanyak banyaknya lewat omongan? Jawabannya panjang lebar. Komentar saya dalam hati setelah pertemuan itu usai cuma dua kalimat: Sang Bijak punya rencana yang indah untuk setiap orang, termasuk saya. Biar Ia yang memutuskan apa yang terbaik buat saya! Oh…
An Invitation for Everyone to Take A Walk in The ‘Woulds’
Menjalani hari hari dengan menjadi staf senior di sebuah perusahaan sekuritas asing ternama, teman saya, Arletta, terbilang sudah berkecukupan dan aman lahir batin. Ia sebaya saya, sulung dari tiga bersaudara dengan seorang di antaranya telah menikah. Letta dianggap kompeten dan cakap oleh kantornya dan dari hari ke hari, posisinya di situ semakin mantap. Dan sejauh yang saya lihat, teman saya itu menikmati hidupnya. Saat kerja ya kerja, saat fun ya fun. Pokoknya, meski tak selalu bertemu setiap minggunya, work hard play hard jadi motto kami. Sama gilanya. Sama nekadnya. Namun, seiring dengan tuntutan pekerjaan dan kebutuhan beraktualisasi diri lebih lanjut, Letta memutuskan untuk meneruskan sekolah, mengambil pascasarjana di sebuah kampus besar di Jakarta. Saya ikut senang ketika dua tahun setelah itu ia lulus gemilang dan menggondol gelar tambahan di belakang namanya. Ia makin tak terbendung hingga hari ini. Saya surprise ketika suatu hari Tante Laras, demikian nama ibu Letta, menelpon saya dan meminta saya untuk menemani putri mbarep-nya itu berlibur selama empat hari di sebuah long weekend, sepenuhnya ditanggung dan saya hanya tinggal pasang badan. Hari gini digratisin begitu, apa gak hebat, pikir saya dan memutuskan tak ada salahnya menerima kebaikan itu. Dan saya pun hanya tinggal menenteng koper, pergi ke rumahnya dengan semangat empat lima!
Happiness is The Only Good: The Time to Be Happy is Now, The Place to Be Happy is Here and The Way to Be Happy is to Make Others So!
Bisa tidur siang adalah sebuah kemewahan langka yang jarang bisa saya rasakan. Tapi, siang tadi, saya berkesempatan menikmatinya dan bangun dengan badan segar dan pikiran nyaman. No mall, no movies menjadi agenda hari ini. Just sleep, take a nap, selama hampir dua jam. Keluar kamar dan merasa lapar, saya membuka tudung saji di meja makan dan mendapati gurame asem pedes dan mi goreng sebagai menu utama. Adik saya rupanya keluyuran siang ini dan oleh olehnya ya dua makanan lezat itu. Makan malam saya bakal istimewa, batin saya. Dengan mata yang masih kriyep kriyep, saya bergegas ke belakang. Usai mandi dan shalat, saya, ibu dan adik saya makan sambil kelekaran di depan tivi. Menonton sebuah acara cari jodoh massal, saya jatuh kasihan ketika seorang perempuan dengan ukuran tubuh di atas rata rata pergi ke belakang pentas dengan gigit jari. Semua kontestan laki laki menolaknya tanpa ampun. Perempuan gemuk yang sebenarnya manis itu ditolak dan penolakan itu dilakukan di depan orang banyak, di muka audiens acara itu sendiri maupun penonton di rumah. Semoga ia tegar dan segera mendapatkan laki laki baik setelah ini, semoga ia memperoleh cinta yang didambakannya, doa saya.
Time When Father Saw His Biggest Dream Broken, Time When Mother Saw Her Biggest Gift Delivered
Hari hari ini saya mendapati begitu banyak pengumuman penerimaan calon pegawai negeri sipil, CPNS, berbagai departemen dan lembaga pemerintah. Memang jadualnya, setahu saya, antara September sampai Oktober ini masa pendaftaran untuk kemudian penyaringan pertama pada November dan tahap berikutnya beberapa bulan ke depan. Sama seperti kebanyakan orang yang berharap bisa bekerja pada pemerintah, saya pun dulu ikut menjadi bagian dari arus besar itu. Alasannya sederhana: karena kerjanya gak terlalu berat dan meski gaji tidak bisa dibilang besar namun ada jaminan pensiun. Almarhum ayah saya sangat menginginkan saya masuk dalam golongan ini. Tapi, setelah saya lolos tahap tahap awal dengan pesaing sekian ribu orang, saya tersandung dalam wawancara, oleh sebuah pertanyaan soal Timor Timur. Saya polos menjawab kalau memang propinsi itu cuma jadi duri dalam daging, jadi api dalam sekam bagi negeri ini, barangkali tak ada salahnya daerah di timur itu dilepaskan saja. Sebuah jawaban yang mengandaskan harapan ayah saya untuk melihat saya menjadi diplomat karir. Saya gagal memenuhi impian almarhum ayah dan ternyata baru belakangan saya menyadari betapa itu adalah keputusan terbaik dari Yang Kuasa untuk hidup saya dan keluarga saya!
Call Little Brother Anytime at 0800-233-SURGA
Mempunyai keponakan selalu sebuah karunia yang membahagiakan. Mengamati tingkah polah si kecil dan menyertainya tumbuh dari hari ke hari sungguh sebuah pengalaman yang, saya yakin, lebih bagus dan nyata ketimbang membaca beragam buku mengenai psikologi perkembangan. Saya bersyukur boleh menikmati itu hari hari ini. Keponakan bayi saya yang belum genap berusia dua bulan mulai bisa diajak bermain dan matanya yang bening memperhatikan semua hal yang bisa ditangkapnya. Memang tak melulu pengalaman menyenangkan. Kejadian merepotkan dan bikin capek juga sering kami alami di rumah. Adik saya, ibu Kiky, demikian keponakan saya itu biasa dipanggil, sudah keburu lelah dan tertidur sementara putranya masih ingin bermain main. Jadilah saya dan ibu saya bergantian momong Kiky, bahkan hingga dini hari. Akibatnya, belakangan ini saya sering bangun telat. Tapi, sungguh itu bukan sesuatu untuk disesali. Mengapa begitu? Karena saya pernah menjadi saksi untuk sebuah kisah yang sulit saya percaya tentang seorang bayi dan kakak perempuannya, yang kebetulan keduanya adalah anak anak dari adik sepupu saya. Hingga hari ini, saya masih sering bingung dengan apa yang pernah saya alami tentang keduanya dan hanya bisa berkomentar, children are unpredictable. You never know what inconsistency they’re going to catch you in the next!
Istana Pasir yang Roboh Terhempas Ombak: I Would Use The Last Breath to Say I Love Him
Sepotong undangan saya peroleh, sebuah pesan di inbox saya dapat dan beberapa baris pesan pendek lewat sms saya terima dari seorang teman. Isinya sama: pemberitahuan bahwa ia akan menikah pada Sabtu beberapa mingggu lalu. Resepsi digelar di sebuah rumah makan pada malam hari setelah sebelumnya pada siang harinya, kedua mempelai mendapatkan sakramen pernikahan di sebuah kapel kecil di Jakarta. Mendapati bahwa pada saat pesta diselenggarakan, di rumah saya akan ada pengajian, mau tak mau saya mesti menghadiri undangan itu pada siang hari, mengucapkan selamat kepada teman saya itu saat ia masih di kapel. Meskipun muslim, saya memilih tak mau kaku dalam menjalankan agama. Kalau memang ada perlu di gereja, ya why not. Toh, saya pikir Tuhan tak bakal hitam putih menilai umatnya. Dengan keyakinan ini, saya menelpon sahabat saya untuk bisa ditemani ke undangan itu. Ternyata jawaban yang saya perolah darinya sungguh di luar dugaan. Ia menolak mentah mentah ajakan saya dan menganggap saya sembrono, mau cari enaknya saja. Saya terperangah menyadari betapa ia jadi sebegitu defensif dan, meskipun demikian, tetap memutuskan untuk meneruskan rencana saya demi pertemanan saya dengan teman saya yang akan menikah itu. Sepanjang jalan ke kapel, saya menimbang nimbang apakah saya begitu sembrono?
We May Only Be Someone in The World, But to Someone Else, We May Be The World!
Teroris mulai masuk kampus! Begitu berita yang merebak akhir akhir ini setelah ditembaknya dua gembong pada Jumat, pekan lalu. Baru saja saya lihat di tivi, tiga mahasiswa telah diamankan pihak berwajib dan ada indikasi mereka bagian dari jaringan teroris. Saya geleng geleng kepala menyadari betapa beragam cara yang ditempuh kelompok teroris yang ada di negeri ini untuk terus memberdayakan diri. Semua cara ditempuh, baik laten maupun terang terangan. Gelengan kepala saya makin kuat mengetahui betapa anggota kelompok yang bersedia melakukan jihad, menjadi martir dalam suatu peristiwa disebut sebagai pengantin. Wah, wah…sambil mencerna berita di tivi itu, saya dikejutkan oleh bunyi ting…ting…ting…Bunyi mangkuk. Itu tanda tukang bubur langganan orang orang di sekitar rumah saya lewat. Ibu saya bergegas keluar dan membeli beberapa mangkuk untuk sarapan kami. Buat banyak orang, termasuk saya, tukang bubur ayam itu sungguh tak diragukan lagi tengah melakukan jihad! Menyambar mangkuk jatah saya, saya teringat banyak tukang bubur dan tukang tukang lain dalam hidup saya, yang tanpa saya sadari sebenarnya tengah berjihad untuk diri dan keluarganya! Sounds pretty cool to me…
Waiting for A Star to Fall, We are Totally in The Hands of Lord
Jangan matikan telpon genggam malam ini hingga besok malam karena siapa tahu dapet panggilan dari Cikeas, begitu candaan teman saya yang hari hari ini tengah sibuk menjadi pengamat dadakan proses penentuan calon menteri, yang hasilnya akan diumumkan pada tanggal 21 atau 22 Oktober mendatang, sehari setelah presiden disumpah. Kami yang mendengarnya cuma cengangas cengenges menyadari betapa tak mungkinnya itu terjadi pada setiap kami. Kandidat menteri sudah pasti bertebaran, lha wong yang ikut koalisi aja katanya ada enam partai, sementara yang oposisi rasanya cuma satu partai besar dan dua partai kecil. Lucunya, partai besar yang mengklaim diri sebagai oposisi itu terlihat kurang solid. Pendapat sang istri beda dengan pendapat sang suami! Saya pun cuma tersenyum menyadari betapa istilah koalisi atau oposisi di negeri ini sebenarnya sama sekali absurd alias gak seperti yang saya duga. Senyum saya berubah menjadi tawa lepas saat mengetahui sepuluh ekor sapi dijadikan sebagai mas kawin perkawinan putri mantan presiden yang sakit sakitan. Negeri ini benar benar harus dicatat dalam Guinness Book of Records, batin saya.
Once Upon a Time When The Famous Nobel Prize Winner Says ‘God is Subtle, But HE is Not Malicious’
Hari mulai beringsut terang ketika saya bangun pagi ini dan bergegas melongok keponakan saya yang ternyata masih pulas di balik selimut ditemani ibunya yang juga masih bermimpi. Mengusap usap lengannya sebentar, saya keluar dari kamar sang keponakan dan ke dapur membuat coklat hangat serta mencomot sepotong bakwan jagung, yang dibeli ibu saya dari tetangga sebelah yang setiap pagi berjualan aneka penganan ringan mulai dari gorengan sampai nasi uduk ataupun lontong sayur. Puas mengudap, saya mencari kabar kabar terbaru, baik lokal maupun mancanegara dan mendapati sebuah tulisan feature yang meski bukan barang baru tapi tetap saja membuat miris kebanyakan orang. Dikabarkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, banyak gadis gadis di Hong Kong secara sadar diam diam menjual diri dengan berbagai alasan. Ada yang karena broken home, terpengaruh pergaulan sebaya yang sudah lebih dulu terjerat hingga semata hasrat ingin memiliki barang ini itu, belanja A, B atau C. Saya rasa, kondisi serupa juga banyak dijumpai di negeri ini atau di negeri negeri manapun di muka bumi ini. Hal tersebut sudah sama tuanya dengan usia peradaban itu sendiri. Selalu ada, selalu muncul dengan wajahnya yang berbeda beda. Prihatin dan memilih tak mau merusak pagi, saya menutup laptop dan bersiap siap berangkat ke kantor. Saya memasukkan berkas berkas ini itu ke dalam tas batik saya dan tak lupa menyisipkan ke dalamnya sebuah novel Shusaku Endo yang bertema gugatan kepada Tuhan yang tetap hening, tetap diam meskipun sakit penyakit, duka nestapa terus terjadi dalam hidup. Topik yang berat? Barangkali ya. Yang jelas, setahu saya, Yang Maha Agung tak kan pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan makhluk-Nya. Tetaplah memiliki prasangka yang baik terhadap Dia, don’t be prejudice upon Him!
Life is Like A Box of Chocolates, Life is Like A Real Torture Without Water
Apa yang paling didambakan setiap orang saat mendapati tubuhnya lelah dan gerah usai seharian beraktivitas? Jawabnya mungkin bisa berbeda beda antara satu kepala dengan kepala yang lain. Tapi, saya akan memberikan jawaban satu kata saja untuk pertanyaan tersebut. Ya, saya akan dengan tegas menyebutkan AIR, dalam aneka wujudnya. Alasaannya ringan ringan saja. Sesampainya saya di rumah, saya akan segera mencari air untuk cuci kaki sekaligus cuci tangan dan kemudian membuka kulkas mencari air dingin. Setelah separuh botol saya habiskan, saya akan istirahat sebentar mendinginkan badan. Begitu terasa adem, saya akan menyambar handuk dan pergi mandi. Bbyaarr…bbyyuurr sepuasnya dan kembali segar saat keluar dari kamar mandi. Habis itu, saya akan kembali menenggak sisa air di botol dan mengisinya lagi di dapur dan meletakkannya kembali di lemari es. Betapa di setiap titik dalam hari hari saya, dan juga setiap orang, air adalah komponen vital yang sungguh harus diletakkan dalam prioritas atas. Cuma, saya sering tak menghargai air. Mengisi air di bak mandi sering sampai mbleber dan tumpah ruah kemana mana karena saya tinggal ini itu. Andai air bisa bicara, ia pasti akan memarahi saya! Hhhmmm…I am wet behind the ears, saya harus banyak belajar dari air. Kalau saya begitu menyayang nyayang coklat favorit saya, maka saya juga mestinya melakukan hal yang sama terhadap air! Jangan pilih kasih dong…
Saturday Night Fever: A Challenging Old Story from An Old Man
Sabtu siang kemarin, saya mendengar kabar buruk dari teman baik saya. Seorang kawan lama kami, Laksmita, yang hanya berusia dua tahun di atas saya terkena kanker usus yang sel selnya sudah mulai menyebar. Kata teman saya itu, dokter menyarankan agar Mita, begitu ia biasa dipanggil, menjalani operasi secepatnya agar kondisinya tidak bertambah buruk. Sebenarnya, ungkap teman saya lagi, Mita yang tinggal di Solo bersama suami dan seorang anak sudah sakit sejak beberapa waktu lalu namun karena berbagai kendala, penanganannya agak terabaikan. Saya merasa ngenes dan prihatin. Menjadi speechless dan serasa menghantam tembok ketika mengetahui biaya menjadi alasan utama mengapa selama ini perawatan intensif tak mungkin dilakukan. Saya gelisah dan bolak balik mencoba mengontak Mita sepanjang malam Minggu. Ketika akhirnya telpon diangkat, saya tergeragap saat Mita bilang sang dokter yang merawatnya memintanya berpacu dengan waktu untuk kesembuhannya. ‘Jual apa yang bisa dijual untuk biaya operasi,’ kata dokter tersebut. Saya tercekat ketika mengetahui yang akan dilego ternyata hanyalah sebuah motor! Tak ada rumah karena masih mengontrak, apalagi kendaraan roda empat. Resah dan bingung, saya menenangkan diri dengan membuka sebuah buku. Di dalamnya saya mendapati sepotong kalimat, God employs several translators; some pieces are translated by age, some by sickness, some by war, some by…
People Who Care About Others Shall Not Die Young!
Sepulang arisan siang tadi, ibu saya masuk rumah dengan wajah cerah sambil menenteng kardus besar berwarna coklat. Saya yang baru saja usai makan siang iseng bertanya apa kira kira isi di dalamnya. Dan sambil menyuruh saya membuka kardus, ia menjelentrengkan dua belas puluhan ribu di meja makan. ‘Ibu dapet arisan,’ katanya riang seraya menuang air ke dalam gelas dan meminumnya. ‘Ini doorprize-nya yang di kardus itu,’ tambahnya lagi. Membuka bungkusan tersebut, saya tersenyum mendapati isinya ternyata sebuah panci. Ya, panci aluminium biasa itu. Puas mendapat uang dan barang, ibu saya beranjak shalat dzuhur dan beristirahat. Kebahagiaan kecil yang sempurna, batin saya. Ternyata, yang namanya kegembiraan itu ada di mana mana. Dari gubuk reyot di pinggir kali sampai rumah mewah di bilangan Simprug atau Pondok Indah; dari rumah kami hingga rumah berpendopo di Cikeas, yang hari hari ini menjadi saksi kegembiraan lebih dari tiga puluh orang yang telah diwawancarai kesiapannya oleh sang RI-1 untuk menjadi pembantu pembantunya. Sesederhana atau sehebat apapun penyebab kebahagiaan itu, semuanya bermuara pada satu titik: ia menuntut orang orang yang tengah mengalaminya untuk bersyukur!
A Pledge to Be A Giant: Menakar Janji Suci Si Upin di Depan Cik Guru
Pagi ini orang nomer satu dan dua negeri ini disumpah di muka parlemen. Pasti megah. Pasti ekstra sibuk. Dan kurang dari 24 jam lagi, jalan baru dibuka bagi keberlangsungan sebuah kedaulatan berpenduduk sekitar 250 juta jiwa. Kabarnya, besok akan diumumkan susunan penumpang utama dalam gerbong anyar. Meski sudah bisa dikira kira siapa menjadi apa, siapa dapat kursi apa, tapi, dari yang saya baca, konon sekitar separuh dari orang orang yang bakal jadi menteri dalam kabinet mendatang dinilai tidak cakap dan tak memiliki kompetensi yang mendukung. Ada kandidat yang katanya sama sekali tak bisa berbahasa Inggris dan dikuatirkan cuma akan clingak clinguk saking gak paham akan bidang tugasnya kelak ketika ia telah mengepalai sebuah departemen. Kabinet baru, kata kabar yang lain, sebenarnya cuma kabinet bancakan untuk mengakomodasi kemauan partai partai yang berkoalisi dengan pemerintah. Satu partai diberitakan kelewat lelet mengambil sikap dan terancam ketinggalan kereta! Pokoknya, aneka pendapat ataupun celoteh, baik dari yang memang betul betul paham, setengah paham atau malah dari yang tak paham sama sekali alias awam berseliweran dan susul menyusul dalam dua hari terakhir ini. Tak tahu apa motif di balik semua pendapat tersebut, saya memilih netral netral saja dan tak mau menghakimi begini begitu. Bukannya apatis, apalagi skeptis. Saya cuma baru ngeh mendapati betapa siapapun pihak yang sedang atau akan berkuasa di sini, mesti sadar sesadar sadarnya dan merelakan dirinya jadi sasaran tembak sekaligus sasaran injak berbagai kalangan! What a day!
Unleash The Power Within: Seribu Satu Aksi, Seribu Satu Saksi; Let’s Walk The Talk, Not Talk The Walk!
Siapakah orang yang paling berbahagia hari ini? Sang orang nomer satu di negeri inikah? Saya rasa bukan. Sang orang nomer duakah? Bukan juga. Para calon penumpang gerbong baru yang besok akan diperkenalkan kepada publikkah? Lagi lagi bukan. Lantas siapa? Yah, sebagai rakyat jelata, saya justru akan memilih sang mantan nomer dualah sebagai jawabnya. Kok bisa begitu? Ya iya dong, wong mulai siang tadi dia sudah kembali jadi warga biasa yang bebas…Bebas dan lepas dari kepusingan memikirkan masalah yang tak ada habisnya di negeri ini, bebas dari aturan protokoler yang membelenggu, bebas pergi ke sana ke mari tanpa pengawalan nguiing…nguiing…yang memekakkan telinga dan bahkan bebas mau tidur atau mau bangun jam berapa. Ia benar benar jadi orang biasa yang membuat banyak orang iri. Lho, kenapa emangnya? Ya iyalah, wong ia kan jelas kaya raya, yang setelah tak ada lagi kewajiban mengurus negara, kabarnya akan pulang kampung. Mau momong cucu dan giat membaktikan diri bagi upaya pengembangan green energy. Mantap pokoknya. Tapi itu masih ntar, setelah ia dan keluarga kembali dari liburan panjang selama sebulan berkeliling Eropa. Tuh, apa gak benar benar enak si bapak ini? Ccckk…ccckkk…saya gak bakal nolak kalau ia memilih saya jadi keponakan jauhnya! Hehee…Hari gerah beli puding, jangan marah just kidding…
Just When The Day Break, I Will Not See That Ring, The Suffer-Ring, Anymore
Seorang kawan mengabarkan putranya masuk ruang gawat darurat karena keluhan nyeri tak tertahankan di perut sebelah kanan. Pemeriksaan darah lengkap dan rontgent abdomen menemukan hasil yang menyatakan ia terkena usus buntu akut yang harus segera dioperasi. Bingung tak ditemani suami ataupun kerabat yang lain, ia menghubungi saya dan meminta saya, kalau ada waktu, bersedia mencarikan kamar dan mengambilkan berbagai keperluan si sakit di rumah kontrakan mereka. Saya setuju. Mencari ruang administrasi pasien baru, saya mendapati betapa sulitnya mencari kamar kelas biasa biasa saja. Alasannya, semua kamar sudah penuh dan yang tersisa hanyalah kamar kamar kelas utama serta VIP. Karena emergency, saya menyarankan kepada kawan saya itu agar untuk sementara waktu mengambil saja kamar yang ada. Ia setuju dengan satu syarat: titip pesan kepada petugas agar diberitahu kalau ada kelas biasa yang kosong biar nanti anaknya pindah kamar. Kenapa selalu klise tak ada kamar begitu ya, batin saya. Apa memang begitu adanya atau diada-adakan agar terlihat seperti itu? Bukan apa apa, kawan saya itu benar benar sedang jatuh tertimpa tangga. Cincin yang ia kenakan di jari manisnya hari hari ini bukanlah wedding ring, melainkan suffer-ring. Lho, cincin apa pula itu?
Show We Care Now: Big Smiles for Big Sandwiches
Kemarin saat istirahat makan siang, saya memilih tak keluar kantor. Meminta office boy membelikan saya makan, saya rileks dengan satu dua teman yang masih tersisa karena kebanyakan sedang makan di luar. Ngobrol ngalor ngidul seputar batalnya pertunjukan Beyonce di negeri sebelah karena alasan yang rasanya kok gimana gitu. Tak terlalu detil kami berbincang karena tak lama pesanan saya datang. Sehabis makan, saya iseng mengambil sebuah buku dan membukanya secara acak. Ini buku kumpulan hikmah yang hanya saya sentuh sesekali karena topiknya yang menurut saya menjemukan. Tak berharap bakal menemukan satu dua hal yang menarik, saya mendapati halaman yang saya buka bertuliskan tiga pertanyaan mendasar dalam hidup. Apa saja memang? Di situ tertulis, ‘kapankah waktu yang paling penting bagi anda; siapakah orang yang menduduki tempat pertama dalam kehidupan anda dan apakah hal terpenting yang harus dilakukan oleh setiap orang. Benar benar buku yang membosankan! Membaca novel atau browsing ini itu di internet pasti lebih seru dan bikin betah. Everybody loves to be lullabied or get connected with others!
Kontroversi Tiga Perempuan dan Sebuah Kursi: Are You Gonna Take Side? I Would Say I am Not
Dua kontroversi besar muncul mengiringi pelantikan kabinet baru siang tadi. Pertama, dikabarkan ada dua menteri wajah baru, yang sebelumnya anggota parlemen, ditengarai sebagai pedofili karena tertangkap basah berduaan dengan anak anak di bawah umur di sebuah hotel di Vietnam beberapa tahun lalu saat keduanya tengah melakukan kunjungan kerja di negeri itu. Kedua, kisah seorang perempuan dokter bedah mata yang gagal masuk kabinet meskipun ia telah mengikuti audisi di Cikeas sekaligus menjalani tes kesehatan fisik dan mental. Asanya koyak dan ia sesak. Penggantinya yang muncul pada detik detik terakhir, juga seorang perempuan dokter peneliti yang mempunyai hubungan erat dan akses langsung terhadap lembaga riset medis milik angkatan laut negeri Paman Sam yang kehadirannya di negeri ini sarat dengan tanda tanya. Sang peneliti juga pernah dicopot dari jabatannya karena dianggap lancang mengirimkan specimen virus flu burung untuk kepentingan komersial tanpa seizin menteri saat itu. Ditingkahi kekecewaan sang menteri lama yang tak lagi diperpanjang jabatannya, bergulirlah perseteruan sengit di antara keduanya. Di mata saya, menteri lama memang spontan dan ceplas ceplos sementara penggantinya, sejauh yang saya lihat di tivi, tampaknya memang masih harus banyak belajar mengendalikan emosi. Komentarnya bukan mendinginkan kemarahan pendahulunya. Ia justru malah terkesan menantang dan defensif. Tapi ini pandangan saya pribadi. Yang tidak setuju, boleh angkat tangan! Raise your hand, please…
A Conversation on Lembaga Penjamin Istri Simpanan: It Takes Two to Tango!
Ribut ribut soal adanya klub poligami asal negeri sebelah yang kini mempunyai cabang di Bandung membuat semua orang angkat bicara. Dari agamawan, feminis hingga aktivis perempuan dan masyarakat awam. Teman teman saya pun ikut arus, baik yang perempuan maupun yang laki laki. Pendapat mereka beragam, ada yang kukuh menentang, ada yang mendukung dan tak sedikit yang abu abu. Terlepas apapun pandangan mereka, saya menyerap semuanya seperti spons menyerap air. Tak ada salahnya tahu lebih banyak aspirasi masing masing golongan. Bukan untuk apa apa. Semata mata demi mendapatkan gambaran utuh tentang sebuah isu yang selalu panas di negeri ini. Rasanya itu bukan sekedar laki laki yang jadi penyebab. Perempuan pun, dengan kepentingannya sendiri sendiri, terpecah belah pendapatnya. Obrolan debat kusir teman teman saya menghasilkan sebuah ide edan: perlu dibentuk lembaga penjamin istri simpanan! Masyaallah, saya cuma geleng geleng kepala…
Love on The Rocks: From Mendadak Gabruk to Mendadak Gubrak!
Curhat atau mencurahkan isi hati kepada teman teman dekat adalah perkara lumrah dan baik. Lumrah karena setiap orang pasti punya uneg uneg mulai dari rasa senang, bahagia, puas, hingga kesal, dongkol ataupun marah yang perlu diletupkan keluar agar hati bisa terasa ringan dan lapang. Baik maksudnya karena memang itulah cara yang harusnya rutin dilakukan kalau orang ingin tetap sehat dan stabil jiwanya. Ketimbang memendam semuanya seorang diri dan bingung mencari jalan keluar bagi problem yang dihadapi, maka sharing dengan teman memungkinkan penyelesaian masalah dapat berlangsung efisien dan tidak berlarut larut. Tapi bagaimana kalau ada teman curhat soal gebetan barunya yang kebetulan bule dan belakangan mulai gencar melancarkan rayuan maut. Bagaimana kalau teman saya tersebut pas pasan bahasa Inggrisnya sehingga saat ia flirting dengan si bule, ia tak tahu harus menjawab apa. Dan saya yang diminta membuatkan jawaban. Membantu dengan setengah hati, saya bertanya berulang ulang dalam hati, ini sebenernya yang lagi gombal gombalan dia dengan si bule atau malah saya dengan si bule? Tak mau kehilangan perspektif, saya menyarankan kepada teman saya agar ia mencari sebanyak mungkin teks lagu lagu cinta. Nanti tinggal dipas-pasin aja. Sana ngomong apa, sini copy paste syair yang mana! Hahaa…barangkali ini masukan paling asal dan naif yang pernah saya berikan kepada orang!
Delicious to The Last Bite: Kue Kue Kampung yang Gosong dan Remuk Itu…
Akhir pekan kemarin saya keluyuran mencari cemilan langganan. Yang dicari sebenarnya cuma pisang goreng, pastel dan pastry. Cuma, semua itu istimewa karena rasanya begitu mantap, gurih dan renyah. Meski bukan penggemar berat gorengan, saya akui tak bisa menolak ketiganya dan saat ada waktu, saya sering sengaja keluar hanya untuk memburu makanan makanan tersebut. Usai membayar di kasir dan keluar toko membawa tentengan tas plastik sekian banyak, pandangan saya tertumbuk pada seorang tukang kue semprong yang tengah berdiri di seberang jalan. Meletakkan pikulannya, ia tampak resah menghitung tumpukan dagangan yang masih penuh. Ngomong ngomong soal kue, bukannya menuduh, cuma rasanya sekarang ini kebanyakan orang, termasuk saya, berlomba dulu duluan masuk bakery ataupun butik kue. Saat mencari kunyahan, yang muncul di benak adalah roti atau kue kue di mall yang memang harumnya tak tertahankan.Tak pernah ingat, apalagi mau tahu dengan kue kue kampung yang sebenarnya banyak juga yang tak kampungan! Kue semprongku sayang, kue semprongku malang…
Tom Yam Soup for The Soul: Aksi Dua Detektif Melayu Versus Nasib Sang Ekonom Keblinger
Sudah dua hari ini ayam jago kakek hilang. Dicari ke seluruh sudut kampung, si Rembo, demikian nama ayam itu, belum juga diketemukan. Akibatnya, kakek murung dan tak nafsu makan. Di tengah kehampaan yang menggigit itu, datanglah si Ipin dan Upin ke rumah kakek. Menceritakan perihal tersebut kepada kedua cucu kesayangannya, dua bocah cilik itu akhirnya memutuskan membantu si kakek menemukan Rembo. Dan jadilah Ipin dan Upin detektif Melayu yang bergaya mirip Thomson & Thompson dalam kartun klasik Tintin. Mengendus endus bau rumput dan memeriksa dengan kaca pembesar setiap jejak langkah di tanah, sang detektif gundul pun tak lupa menginterogasi semua orang di kampung. Mencari apakah masing masing orang punya alibi di jam jam ketika Rembo mendadak hilang, keduanya bersikap cukup profesional saat menanyai konco konco mereka. Banyak yang membantu jalannya penyelidikan, tapi ada juga yang tak kooperatif seperti Jarjit, anak keling keturunan India yang suka berpantun ria. Bukannya menjawab straight to the point, ia malah bilang, due tige menyelam hingga berpeluh, mengape hilang ayam awak dituduh!
Jaka Sembung Naik Ojek dan Ia Benar Benar Waras
Keponakan bayi saya rewel dan menangis terus sejak kemarin siang. Ia memang baru divaksinasi DPT dan kata dokter sepuh langganannya, efek meriang dan panas badan di atas 38 derajat Celcius plus sedikit diare adalah normal dan akan pulih dalam beberapa hari. Tak bisa tidur kecuali dibopong, Kiky, begitu panggilan keponakan saya, terus terusan muntah dan gumoh dari mulut dan hidung. Susu berikut makanan bayi yang dikonsumsinya berhamburan keluar dan ia kelihatan lemas, kuyu dan matanya kering tak bersinar. Ibu, adik saya dan saya sama sama cemas dan prihatin. Dalam tempo kurang dari 24 jam, Kiky telah ke dokter yang sama dua kali. Mungkin masalahnya tak akan terlalu rumit kalau saja adik saya itu tak harus menghadiri sidang perceraiannya besok dengan ayah Kiky. Ibu saya pun ruwet karena besok malam seharusnya beliau berangkat ke Jogja untuk menghadiri pernikahan anak adik ibunya. Jadi, itu pernikahan keponakan ibu saya dan itu adalah hajat terakhir karena yang dinikahkan adalah si bungsu. Sambil menggendong sang keponakan dan meninabobokannya, saya membayangkan diri saya adalah Kiky yang hanya bisa menjerit jerit merasakan meriang dan tak bisa berkomentar banyak saat orang orang seisi rumahnya cakar cakaran dan saling menyalahkan atas kondisinya! Cakar cakaran? Apa itu tak terlalu dilebih-lebihkan?
You are The Star on Your Own Channel, Your Life is The Most Interesting Movie
Menunggui keponakan bayi saya yang akhirnya mesti menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak, saya dan ibu saya mendapati betapa bocah laki laki berumur dua bulan itu membuat sebuah kejutan. Kejutan apa? Yah, sebenarnya sederhana saja. Sampai di rumah sakit ia didiagnosis mengalami dehidrasi plus mual kronis yang untunglah tidak parah. Setelah dipasangkan infus dan ditempatkan di ruang perawatan, Kiky terus tidur dan hanya sesekali bangun saat ia pipis ataupun pup. Tadinya, adik saya–ibu Kiky–, ibu saya dan saya sendiri mengira kencana wingka kami itu akan terus terusan rewel. Ternyata, dugaan tersebut salah. Dengan caranya sendiri yang unik, Kiky menunjukkan betapa meskipun bayi, ia patut dihormati sama seperti orang dewasa. Bersyukur atas kondisinya yang mulai stabil, saya duduk di kursi yang diletakkan di samping tempat tidur pasien. Memindah mindah saluran televisi yang isinya kebanyakan cuma sinetron yang isinya sering tidak membumi dan dibuat buat, saya baru sadar betapa sebenarnya channel yang paling menarik adalah ya televisi bernama kehidupan itu sendiri di mana setiap orang adalah bintangnya. Ya, Kiky adalah bintangnya, ibu Kiky bintangnya, saya bintangnya dan siapa lagi kalau bukan yang sedang membaca tulisan ini…You are the star on your own channel!
Romantic Candle Light Dinner di Penjara Guantanamo, Second Chance to Be A Winner
Rumpian apa yang selalu panas untuk dibahas? Obrolan apa yang selalu berada di peringkat atas? Gosip apa yang setiap saat riuh rendah diperbincangkan? Jawabannya cuma satu dan semua kepala rasanya setuju. Ya, tak lain dan tak bukan adalah soal perselingkuhan atau love affair. Di mana pun, kapan pun dan siapa pun yang tengah berada di dalamnya pastilah sedang bergumul dengan nuraninya, bersilat kata dengan benaknya demi mencari sepotong justifikasi, menemukan secuil alasan ataupun pembenaran yang membuatnya bisa sedikit bernafas di tengah tudingan sana sini ataupun bisik bisik kanan kiri. Seperti itulah yang dulu pernah dialami kawan baik saya. Menghadapi hal begini, saya tetap berkepala dingin dan tak mau kehilangan perspektif. Meskipun kami cukup akrab dan saya mengetahui pasti apa alasan perselingkuhannya dengan orang nomer dua di sebuah perusahaan periklanan asing, tak banyak yang bisa saya lakukan untuk membuat teman saya berpikir jernih. Berbagai alasan dan motif ada di situ: motif cinta itu sendiri, motif ekonomi, motif lingkungan maupun motif motif lain yang tak terpikirkan oleh saya. Apapun alasan keduanya, saya tak berhak menghakimi. Yang jelas, kalau saya disuruh memilih apakah mau jadi orang baik atau orang benar, maka jawabannya adalah saya memilih menjadi orang baik saja. Lho, apa hubungannya emang? Iya, wong saya cuma penonton. I am an outsider, ada di luar ring, yang kalau malas meneruskan tontonan tersebut ya tinggal pindah channel. Apa bukan begitu, man?
All Come So Easy, All Go So Crazy: Life is Not a State of Emergency, It’s a Matter of Choosing Nasi Urap or Chicken Cordon Bleu!
Kemarin petang saya kedatangan tamu istimewa, lima anggota geng kecil kami yang sengaja berkunjung menengok keponakan bayi saya, Kiky, yang sudah kembali ke rumah setelah tiga hari menjalani rawat inap di rumah sakit. Usai menimang dan mengajak sang kencana wingka mengoceh selama beberapa menit, saya mempersilakan kelimanya untuk makan. Bukan makan besar. Cuma nasi hangat plus urap, telur pindang rebus dan ikan asin. Ya, kebetulan siangnya memang ada acara kecil di rumah: selapanan kedua Kiky, yang sekarang telah berusia 72 hari. Masih sekitar lima kali lagi acara serupa bakal digelar hingga keponakan saya itu turun tanah, pada bulan ketujuh setelah kelahirannya. Menunya ya selalu sama dan syukurlah teman teman saya makan lahap sekali. Tambah urap, tambah ikan asin dan cemilan ini itu. Saya gembira melihat cara mereka makan. Slap…slep…slap…slep...Begitu nikmat dan seperti kelaparan. Ya, lebih baik begitu dari pada lihat teman yang makan cuma sesuap dua suap karena alasan takut gemuk atau bilang sedang diet. Bukan sentimen atau apa. Yang jelas, saya percaya satu hal: bukan makanannya yang bikin gemuk. Justru pikiran atau ide yang ada di benak orang tentang makanan yang sedang ia makanlah yang membuat ia gemuk! Bertele tele? Terlalu filosofis? Gak, sama sekali gak. Ini cuma perkara mencari jarum dalam jerami yang semua orang, kalau niat, pasti dapat menemukannya!
Going to Pieces without Falling Apart: From Pooh to The Family of Cicak dan Buaya
Sore menjelang petang di Hundred Acre Wood ketika Winnie The Pooh, Tigger, Piglet, Rabbit, Eeyore dan Kanga tengah bersantai minum teh di rumah Owl, si burung hantu. Banyak hal yang mereka obrolkan mulai dari apa saja mainan baru yang dimiliki Christopher Robin, apa asyiknya bekerja menggali terowongan bawah tanah seperti yang dilakukan Gopher selama ini sampai bagaimana cara mendapatkan lebih banyak madu bagi Pooh dan bagaimana cara memilih pupuk yang tepat bagi tanaman wortel di kebun milik Rabbit. Pokoknya, semua hal terkait kehidupan di hutan yang terkenal tenteram dan damai itu. Namun, beberapa hari belakangan ini, topik pembicaraan berubah menjadi agak serius. Yang mereka bahas saat ini adalah drama membingungkan di hutan sebelah yang bernama Arden Wood. Kata si Owl yang rajin baca koran, di hutan itu sekarang terjadi kekisruhan yang nampaknya bakal terus bergulir menjadi bola panas. Ya, di Arden Wood kini tengah terjadi perseteruan besar antarpara penghuninya, cicak dan buaya yang kabarnya membuat sang jagawana mesti turun tangan. Sebagian orang kampung yang tinggal di sekitar hutan itu pun tergerak berpacu menggalang kekuatan agar dua cicak yang dipenjarakan di gua dalam tanah milik para buaya segera dikeluarkan. Menyimak dengan tekun cerita Owl, Pooh dan Kanga termangu mangu tak tahu harus berpendapat apa, sementara Tigger dan Rabbit jelas memihak para buaya. Piglet, karena tubuhnya mungil, memilih berpihak kepada kelompok cicak. Adapun Eeyore seperti biasa, acuh tak acuh dan sibuk dengan urusannya sendiri. Sebenarnya, mereka tak terlalu yakin dengan keberpihakan atau ketakberpihakan masing masing dan karenanya menunggu apa kira kira pendapat sang sahabat paling cerdas, siapa lagi kalau bukan Christopher Robin. Saat Pooh bertanya kepada bocah laki laki tersebut, Christopher cuma menatap mata beruang madu itu lurus lurus sambil bergumam ‘Silly old bear!
And Then They Were There: Semalam Cicak Bebas, Semalam Buaya Kebas, Semalam Ada yang Mulas, Semalam Ada yang Pulas!
People’s power menunjukkan taringnya! Setelah kemarin seharian banyak orang dibuat ternganga nganga di depan tivi menonton mahkamah yang memperdengarkan percakapan sekian banyak pihak yang diduga berperan dalam konspirasi tingkat tinggi yang membingungkan, langkah berikutnya yang diambil menjelang dini hari tadi adalah ditangguhkannya penahanan dua pahlawan. Dua cicak bebas, dua cicak lepas. Angkat topi untuk kemajuan signifikan dalam tempo singkat. Di depan tivi melihat berita pagi, saya mendapati betapa kisruh cicak dan buaya adalah novel bestseller yang tinggal dituliskan dan pasti akan dibaca oleh setiap kepala di negeri ini. Bakal laku keras sampai ke edisi bajakannya. Sekian banyak lika liku, sekian banyak deru debu. Tokoh sentralnya majemuk, ada cukong yang merasa diperas, ada cicak yang awalnya tertatih tatih, ada buaya yang di muka tampak jumawa, ada pengamat yang pendapatnya cuma bikin bingung, ada gegap gempita media menggelar breaking news dan menggulirkan headlines yang ditunggu tunggu orang dan ada awam yang tak tahu cerita mau kemana. Ujungnya, banyak yang senang dan pasti ada yang gamang!
Whatever You Laugh at Others, Laugh at Yourself: This is It, This is Life, This is (Still) about Cicak dan Buaya!
Sepanjang perjalanan saya kembali ke rumah dari kantor tadi, pikiran saya terfokus pada satu hal yang rada nyeleneh dan konyol pascapemutaran rekaman percakapan mereka yang terlibat dalam kasus berindikasi suap terpanas di negeri ini berikut langkah penangguhan penahanan terhadap dua cicak oleh para buaya. Saya bukan berpikir what next after these things, bukan berpikir apa skenario besar di balik ini semua, bukan berpikir bagaimana nasib sekian banyak pihak yang suaranya ada di dalam rekaman atau bagaimana nasib penegakan hukum di negeri ini selanjutnya. No, bukan. Sama sekali bukan itu semua karena jelas, saya orang awam yang buta soal soal begituan. Biarkan itu diurus oleh mereka yang ahli, serahkan itu kepada para pakarnya. Jadi apa yang saya pikirkan? Tak lain tak bukan adalah perkara simpel belaka. Ya, saya tengah mereka-reka apa kira kira celoteh Benny & Mice minggu ini dalam komik strip bikinan mereka yang biasa saya temui di edisi Minggu sebuah harian. Hehee…Saya menunggu itu dan membayangkan keliaran atau intermezzo kecil apa yang bakal mereka tawarkan bagi setiap pembacanya yang sudah ekstralelah bin ekstracapek mendapati fakta betapa hukum di negeri ini bisa dimulurmungkretkan bak karet gelang! Katanya, tawa bisa jadi obat luka, so, tak ada salahnya saya melihat carut marut negeri ini dari kaca mata kartun ataupun parodi. Siapa tahu saya dapat sedikit angin segar pencerahan atau, jangan jangan, malah kena batunya sendiri! Hahaa…
The Easiest Way to See A Rainbow is to Look through The Rain or to Bring Similikiti Balabala
Permen tidak boleh dijadikan sebagai alat kembalian pengganti uang receh, begitu kata koran koran kemarin. Dan tanggapan pun bermunculan seperti bakal bunga di pohon yang rontok terkena angin atau tersenggol lompatan kucing. Bukan apa apa, ini memang sebetulnya perkara sekeping dua keping receh yang kalo diikhlaskan ya akan berhenti sampai di situ saja. Cuma kalau mau dibikin panjang ya emang miris juga. Betapa gak, mbok kalau memang udah tahu recehan sekarang ini susah didapatkan, kenapa gak harga barang di super atau hipermarketnya aja yang dibikin bulet, jangan nanggung seperti yang sekarang ini. Bisa dibuletin ke atas, kecil kemungkinan dibulatkan ke bawah. Ya kan? Terus, kalo emang udah siap, udah committed main ritel, ya nyiapin perangkat pendukungnya dong, termasuk recehan sebanyak mungkin. Masak mau tutup mata dan bilang gak ada kembalian melulu dan menggampangkan masalah dengan ngasih permen sebagai pengganti receh. Tapi, kalau mau jujur, sebenarnya perilaku kebanyakan orang, termasuk saya, terhadap recehan juga memprihatinkan, sih. Coba aja, saya sering mendiamkan, mencecerkan begitu saja si bulet mak krincing yang kebetulan saya punyai itu di mana mana, di tas, di buku, di meja, di lemari, pokoknya di mana aja senyangkutnya. Bergeletakan begitu saja dan masa bodoh kalau lagi gak butuh. Eh, giliran perlu, susah banget nyarinya, ngumpet kemana tahu. So, saya pikir sih ini mungkin perkara gimana saya memperlakukan sesuatu, terutama gimana saya menghormati sesuatu yang kecil dan sepele belaka sehingga pada saat diperlukan ia akan balik menghormati saya. Masak sih untuk urusan seketip dua ketip gini sampe perlu mencanangkan gerakan antipermen, ganyang permen sebagai pengganti uang receh? Gak lucu kan. Atau gimana kalau permen dibikin laku buat beli ini itu. Mantep juga kali, ya? Beli pake permen, kembalian pake permen dan yang dibeli ndilalahnya juga permen. Hahaa…so sweet yet ngenes. Apa mau pake uang daun kayak di Arden Wood? Saya sih milih yang gampang aja, kalau dikasih permen dan mood lagi bagus ya terima ajalah dan kalau dibalikin receh ya syukur alhamdulillah. Nah, kalau pas mood lagi gak bagus, anggap aja bahwa permen itu sebenarnya pelangi kecil, bagian dari rejeki saya hari ini dari Tuhan yang besok bisa berubah lagi jadi receh! Are you with me?
Once upon A Time in The East: Sahibul Hikayat tentang Dua Saudara Kambing, eh, Dua Saudara Kandung!
Yang sering meng-update status di Facebook mungkin ada baiknya bijak dan tak cari penyakit. Kemarin saya lihat berita di tivi, seorang oknum polisi jadi berurusan dengan kepolisian daerahnya sendiri gara gara status yang ia buat di jejaring sosial itu tergolong provokatif terkait kasus cicak buaya. Apa yang ia tuliskan itu sempat di-close up dan sebenarnya cuma satu kalimat saja. Tapi memang bikin gerah dan memancing teman temannya untuk berkomentar. Hari hari ini adalah hari hari sensitif untuk semua pihak yang terlibat dalam kasus tersebut. Gimana gak, kasus itu menyeret semakin banyak orang, membolak balik nalar dan mengusik nurani. Babak yang sekarang tengah berlangsung adalah saling klaim bukti ini itu bahwa semua yang dikatakan lawannya cuma bohong belaka. Kemarin malam di depan parlemen, buaya bilang A, B, C dan siangnya cicak menanggapi dengan bilang D, E atau F. Mana yang benar, manalah saya tahu. Cuma lucu aja, betapa pendapat parlemen di gedung kura kura ternyata berbeda bumi dan langit dengan aspirasi parlemen online. Di Senayan, buaya mendapat puja puji dan dukungan agar mereka bertindak berani dan tak perlu takut menyeret siapapun yang terindikasi kongkalikong. Sementara di dunia maya, parlemennya koor satu suara mendukung sang cicak dan tanpa ampun mengunci mati gerak sang buaya. Di tengah polaritas pendapat demikian, ada juga porsi bagi mereka yang netral netral saja dan alasannya pun masuk akal. Satu dua teman saya pun mulai bergeser pendapatnya, dari yang semula membela abis cicak jadi menimbang nimbang bagaimana kalau memang anggapan mereka selama ini salah. Bagaimana kalau memang terbukti buaya yang benar, bagaimana kalau ternyata cicak terbukti bisa diajak kompromi, bagaimana mungkin di sebuah kampung isinya ustadz melulu, bagaimana mungkin di sebuah dusun isinya hanya dan hanya begal semata dan seterusnya. Saya sih gak mudeng dengan itu semua. Yang jelas benar rasanya cuma satu: kisruh tersebut kalau tak segera dibereskan, bakal menyeret semakin banyak korban. Contohnya ya, si oknum polisi itu. Sebelumnya jelas sudah ada korban malu dan stress di pihak keluarga cicak dan buaya plus korban korban lain seperti wartawan yang jadi harus liputan ekstrakeras, sang orang nomer satu yang jadi mesti bikin penegasan lawan mafia hukum dan sebagainya. Kalau udah terlanjur dalem begini, apa obatnya coba? Gelap dan speechless, saya memilih mendengarkan sahibul hikayat aja di sebuah radio bergelombang AM. Siapa tahu cerita cerita dari jaman kadal itu bisa bikin saya sedikit lega dan fresh di tengah kondisi negeri saya yang babak belur seperti ini. Dan sang pengantar acara pun memulai kisahnya dengan kalimat standar: Pada suatu masa hiduplah…
A Rollercoaster to Ride Here: Gerbang Utama Titian Serambut Dibelah Tujuh di Sana…
Kabar duka menyeruak di hari Minggu yang tenang kemarin. Ibu mertua teman baik saya ditemukan tewas dalam sebuah kebakaran besar yang terjadi di rumahnya di Banjarmasin. Ia terperangkap saat api diketahui tiba tiba sudah membesar dan berkeretek melumatkan plafon dan tiang tiang rumah. Tiga atau empat anaknya yang tinggal di rumah itu bersicepat menyelamatkan anak anak mereka. Dalam kebingungan dan kepanikan di tengah api yang kian melalap habis rumah mereka, sang ibu malah terlupakan untuk diselamatkan. Saat ingat, api sudah sedemikian besar dan sudah tak mungkin lagi kembali ke dalam rumah. Saat sekian jam kemudian api berhasil dipadamkan, pada puing puing di bagian kamar si ibu tak ditemukan sama sekali jasad almarhumah. Yang ada hanya abu dan tulang tulang yang segera dikumpulkan untuk kemudian diotopsi. Saya dan teman teman berduka dan mendoakan agar almarhumah mendapatkan tempat yang terbaik di sisiNya. Semoga Sang Keabadian menggolongkan ibu mertua teman saya itu dalam golongan yang berakhir baik, khusnul khatimah, sekaligus syahid karena ia berpulang dalam kondisi sedemikian tragis. Saat dimakamkan, yang dimasukkan ke liang lahat, kabarnya, hanyalah tulang belulang dan kumpulan abu yang tersisa! Innalillahiwainnailaihirojiun. God, may her soul rest in peace…
Hom…Pim…Pa…What a Crazy Donkey Our Friend, Eeyore, is! But Anyway, Don’t Laugh at His Idea…
Hari masih pagi di Hundred Acre Wood ketika Pooh terjaga dari tidurnya yang lelap semalaman tadi. Matanya masih belum sepenuhnya terbuka dan ia pun masih bermalas malasan di tempat tidurnya yang hangat ketika tiba tiba telpon di rumahnya berdering. Ketika diangkat, sang beruang madu kaget mendapati yang menghubunginya adalah seorang teman, Kenza, yang telah sekian lama menetap di Arden Wood. Ya, sejatinya sang teman dulu adalah teman sepermainan Pooh saat masih sama sama tinggal di sini dulu. Sejak beberapa tahun silam Kenza dan keluarganya boyongan ke hutan sebelah karena mengikuti orang tuanya. Ada apa Ken telpon pagi pagi, pikir Pooh. Dan ketika temannya mengatakan ia sudah dalam perjalanan ke Hundred Acre Wood untuk berkunjung ke rumah sang beruang madu, Pooh berteriak kegirangan dan cepat cepat ia menyudahi kontak telpon tersebut. Mandi dan bersih bersih sebentar, ia menanti kehadiran Ken sambil menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Madu buat Pooh dan roti bakar isi keju plus nanas buat temannya dan seteko teh panas beraroma melati. Pooh mereka-reka, apa kira kira maksud kedatangan Ken. Barangkali cuma main atau…bisa jadi juga mau mengobrolkan kisruh cicak dan buaya di tempatnya tinggal sekarang. Tadi Ken memang bilang sekilas bahwa kondisi di Arden semakin tidak menentu. Wah, kalau begitu, aku perlu mengundang juga Owl, Tigger, Rabbit, Piglet, Eeyore, Kanga dan Christopher Robin ke mari, pikirnya. Pasti bakal seru dan fun, batin Pooh. And it is fun indeed…
Knowing You and I Would be The Same, I Look for You in The Places Where I Would be
Pamor orang nomer satu negeri ini melorot karena kasus cicak dan buaya, begitu kata sejumlah pemberitaan media. Katanya, seratus hari pertama pemerintahan yang seharusnya bisa diibaratkan sebagai masa bulan madu terancam menguap begitu saja dan tergantikan oleh memuncaknya ketidakpercayaan plus antiklimaks yang timbul sehubungan perseteruan dua lembaga negara yang mestinya sama sama terhormat. Banyak orang kelihatannya mulai berpikir dan bertanya tanya kalau memang sang presiden merasa namanya dicatut , kenapa ia tidak segera melaporkan hal tersebut kepada yang berwenang. Emang sih, lapornya ke buaya juga. Tapi setidaknya, ada ketegasan sikap yang jelas. Membaca detil berita itu, saya senyum senyum sendiri. Betapa tidak, di halaman lain saya mendapati kabar yang menyebutkan orang nomer satu di Brasil langsung turun tangan mengatasi pemadaman listrik yang baru berlangsung selama dua hari di dua kota besar di sana akibat rusaknya tiga pembangkit. Kok beda banget ya dengan di negeri ini? Sudah hampir dua minggu lebih rasanya publik menonton dagelan berjudul Full House: Full Trouble, Full Rekayasa yang anehnya, hingga kini, belum juga menggerakkan hati sang orang nomer satu untuk do something firm. Memang tak baik berburuk sangka kepada orang. Cuma, dengan sikapnya yang seperti sekarang, ia malah membiarkan publik berburuk sangka kepadanya. Iya apa iya? Rasanya kok gak juga. Lho, gimana sih?
A Convenient Truth: A Charm Bracelet, If You Please; A Dike, If You Fear
Seperti kaset rusak berisikan serangkaian lagu lama yang itu itu juga, saya mendengar di radio katanya warga ibukota diminta siap siaga menghadapi banjir mengingat dalam beberapa hari ke depan hujan bakal terus turun. Dan memang, pada Jumat kemarin saat saya mengantarkan ibu saya kontrol ke dokter langganannya, Jakarta dikepung genangan di sana sini akibat hujan yang turun selama satu dua jam menjelang Maghrib. Dongkolnya bukan main karena jarak yang mestinya bisa ditempuh dalam tempo empat puluh menit saja akhirnya berubah menjadi hampir dua jam. Untung bukan nganter ibu hamil yang mau bersalin, batin saya. Kemarin, kabarnya lagi, sekian banyak walikota dan camat dikumpulkan oleh sang gubernur untuk meeting membahas antisipasi banjir. Kok masih bolak balik rapat aja sih, ujar sebuah komentar yang saya baca di bawah berita itu. Ya, betul juga saya rasa. Wong udah jadi urusan klise setiap tahun kok ya masih terus aja dirapatin. Bukankah mestinya sudah ada prosedur standar penanganan bencana, termasuk banjir? Kalau diikutin keselnya, maka sudah pasti saya geregetan dan langsung tahu siapa yang salah. Tapi karena jalanan macet dan gak ada kerjaan, saya baru sadar bahwa saat saya mengepalkan jari jari saya dan dengan telunjuk menuding siapa yang salah, ternyata empat jari saya yang lain kok malah mengarah kepada diri saya sendiri! Saya garuk garuk kepala yang sebenernya gak gatal. Apakah ini cara alam untuk bilang bahwa dalam urusan banjir, saya ternyata lebih salah dari sang gubernur dan jajarannya? Waduh, sore yang sengsara, gumam saya. Udah terkepung air, macet, eh, masih dianggep salah pula! Untunglah saya orang yang ndableg. Ketimbang mengaku salah, saya malah buru buru mengelapkan jari jari tangan ke baju. Dah, beres kan?
Two Max Coming Soon on Theaters: ‘Mud Max’ at Studio One and ‘Madness Max’ at Studio Two
Tragedi lumpur Porong Sidoarjo akhirnya difilmkan oleh sebuah sekolah tinggi di Arizona yang khusus mempelajari seluk beluk geologi dan eksplorasi ruang angkasa. Ini film dokumenter berdurasi 47 menit yang dibuat atas kerjasama lembaga pendidikan tinggi itu dengan sebuah studio film dan diluncurkan Jumat, pekan lalu. Alasan utama kenapa film itu dibuat, kata produsernya, karena adanya unsur kontroversi di sana sini sepanjang penanganan lumpur tersebut di samping sisi politis yang muncul di dalamnya. Sebuah televisi swasta di sini kabarnya telah menyatakan tertarik untuk memutar film yang naskah bahasa Indonesianya baru akan kelar pada Januari tahun depan. Membaca ini, saya keplok keplok, tepuk tangan sendirian. Bukan saya senang atau malah gembira melihat bencana alam dipakai sebagai bahan sebuh film. Justru saya sedang membanding-bandingkan dan bertanya, bagaimana seandainya perseteruan cicak dan buaya juga difilmkan. Pastilah seru karena di dalamnya terdapat semua unsur yang mendukung kesuksesan sebuah film: konflik yang mbulet, jalan cerita yang tak bisa ditebak, para pelaku yang bisa bermain watak, bumbu sedap berupa kisah asmara segitiga plus aroma pengkhianatan rumah tangga, pembunuhan dan konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan para elite serta menyerempet kepada sang orang nomer satu. Rasanya, Hollywood pastilah menoleh untuk membuatkan versi layar lebarnya. Kalaupun mereka menolak, pastilah Bollywood bakal bersedia menangkap bola muntah itu. Boleh jadi produser dari Korea pun tertarik mengangkatnya menjadi serial yang menguras emosi penonton. Atau di luar itu semua, jangan jangan sudah ada penyandang modal lokal yang sudah ancang ancang untuk membuatkan skenarionya. ‘Wah, cantiknyee,‘ kata Upin sambil cengengesan kalau kepada dia ditanyai soal ini. Saya sendiri pun bakal berkomentar serupa, Aku nak tengok itu movie nanti!
Dagang Nasi Uduk itu Urusan Emak dan Bikin Novel itu Urusan Mareta
…dan Lastri pun membuka mata saat kokok ayam mulai terdengar nyaring menjelang Subuh. Tanpa bermalas malasan di kasur, ia bangkit dan secepat kilat membereskan tempat tidur. Ya, semalam ia telah membulatkan hatinya untuk minggat dari rumah pagi ini karena tak sudi dijadikan istri keempat dari seorang laki laki bau tanah yang selama ini di dusun Pringgading dikenal sebagai juragan tembakau. Ayah Lastri berutang lima ekor sapi kepada si juragan dan hingga bulan lalu baru bisa dibayar sebanyak harga dua ekor sapi. Tak tahu apa juntrungannya, tiba tiba tiga hari lalu si juragan ke rumah menemui ayahnya dan bilang utang akan dianggap lunas asalkan si sulung, anak gadis Pak Sarkim yang terkenal ayu itu boleh ia peristri. Ayah Lastri, meskipun mengatakan terserah, namun ia meminta Lastri mengerti posisinya yang tengah terjepit.
Gadis dusun yang berkulit kuning langsat, tinggi semampai dan berhidung bangir itu pun sempat bingung untuk beberapa lama sampai pada akhirnya ia berani membuat keputusan: kabur dari rumah dan meninggalkan tabungannya yang tak bisa dibilang banyak sebagai sedikit kompensasi atas kedurhakaannya tak mau mengikuti keinginan sang ayah. Itu uang dari tetesan keringatnya sendiri yang selama hampir dua tahun ini bekerja memburuh di pabrik gula milik Haji Subhan.
Jadi, pagi itu, dengan hati hati, dimasukkannya uang dan surat permohonan maaf kepada kedua orang tua dan seorang adiknya ke dalam sebuah amplop dan diletakkannya di bawah kasur. Bergegas, ia mengambil dua tiga potong pakaian berikut sisir, bedak dan gincu yang baru dibelinya minggu lalu di kota. Berjingkat jingkat menggeser pintu yang terbuat dari anyaman bambu, Lastri keluar kamar dan untuk terakhir kalinya ia memandangi foto keluarga yang tergantung di dinding. Maafkan aku, Mbok, Pak dan kau Sri, desisnya pelan. Sekian menit berlalu dan ia mengusap air mata yang mulai keluar dengan ujung bajunya sambil berjalan ke pintu.
Menggerakkan kunci sepelan mungkin, Lastri menghirup udara pagi yang mestinya menyegarkan. Tapi kali ini, kegundahan hatinya telah membuat segarnya udara pagi tak berbeda dengan udara di kawasan pabrik di kota. Ia menutup pintu dan melangkah dengan satu tujuan: ke kota menemui kekasihnya di Jakarta yang bekerja sebagai tukang ojek. Tunggu aku, Mas Pri, pintanya berulang ulang sambil berjalan kaki menuju mulut dusun melewati pematang sawah. Ia menggigil karena kabut masih turun dan embun yang menempel di rerumputan membasahi kakinya yang cuma memakai sandal jepit. Cuma satu dua orang saja yang ditemuinya di pematang karena pastilah orang orang di dusun masih bergelung di balik sarung ataupun kain selimut. Selang beberapa menit kemudian, ia sampai di pinggir jalan raya dan menanti angkutan pedesaan yang lewat.
Menunggu sekitar sepuluh menit, muncul di kejauhan dan lantas berhenti di depannya sebuah colt warna hijau kecoklatan diiringi dengan teriakan, Terminal, terminal! Lastri pun menggelung rambutnya dan melangkahkan kaki ke dalam bis. Hepp…waduhh…duuhh, ini kok—
A Touchy Letter from An Ordinary Daughter to Her Extraordinary Mom in Sleman
Jakarta, medio November 2009
Buat Ibu di Godean, Sleman
Assalamualaikum, Bu…
Bu, setelah sekian lama tak berkirim kabar kepada ibu dan adik adik di rumah, maafkan kalau sekarang aku baru bisa menulis surat ini. Dan nyuwun sewu juga kalau surat ini ibu terima dari Paklik Sus karena aku memang sengaja menitipkan ini kepada beliau, yang kudengar akan ke kampung untuk urusan menguburkan kembali almarhumah Bulik Tati di kampung halaman. Ya, setelah tiga tahun dimakamkan di Jakarta, Paklik dan anak anaknya sepakat mengambil apapun yang tersisa dari jasad almarhumah. Alasannyanya, agar tidak ruwet setiap tiga tahun sekali mesti memperpanjang izin penggunaan tanah makam. Selain itu, kudengar juga Paklik akan menetap seterusnya mulai tahun depan di Godean, menempati rumah yang lama cuma ditinggali oleh Kang Sarno bersama istri dan dua anaknya. Jadi ya, memang alangkah lebih baiknya kalau Bulik Tati dipindahkan makamnya ke situ agar Paklik bisa setiap saat menengok dan merawat makam Ibu dari Aryo dan Gati itu.
Aku di sini baik baik saja, Bu, meskipun sempat beberapa kali gonta ganti pekerjaan. Ibu kan tahu, aku tak suka bekerja di belakang meja karena itu menjemukan dan bikin gemuk. Aku lebih suka bekerja jadi orang lapangan yang banyak gerak dan kerap beralih suasana dari satu tempat ke tempat lain. Itulah kenapa aku memilih jadi reporter dan meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai bank ataupun staf administrasi.
Bu, Ibu tahu tidak, apa yang kuliput hari hari ini? Ya, kurasa ibu tahu karena kalau ibu menyalakan televisi dan menonton berita soal kasus cicak dan buaya yang heboh itu, barangkali ibu akan mendapati wajahku sesekali tersorot kamera sedang mewawancarai sumber berita di antara kerumunan wartawan. Ya, kami centang perenang dan terengah engah mengikuti naik turunnya perseteruan para elit itu, Bu. Itu tekanan dari kantor yang harus kujalani. Jadi, ibu maklum saja kalau di kamera wajahku terlihat kusam dan kelelahan.
Aku sendiri sejatinya gak pede melihat wajahku lho, Bu. Ibu kan tahu, aku biasa biasa saja meskipun setiap kali ibu selalu membujuk wis cah ayu, kowe ki sing apik dhewe. Tapi aku sadar, ibu cuma sedang menghiburku agar tak berkecil hati. Dan aku berterima kasih untuk dukungan itu.
Oh ya, Bu, kalau ibu tak sempat ke kota karena belakangan ini kabarnya sering hujan di sana (betul to?), tolong ibu suruh Dik Dimas saja untuk ke bank langganan Ibu yang berada di depan alun alun. Aku kemarin mentransfer uang yang tak seberapa besar. Uang itu, maksudku, kuhadiahkan kepada Ibu sebagai dana untuk membeli dua ekor kambing pada Idul Adha minggu depan. Ya, satu kambing untuk qurban ibu dan satunya lagi sebagai qurban almarhum ayah. Semoga ayah mendapatkan jalan yang lapang di sana dan ibu pun selalu sehat hingga bisa mengantarkan aku, Dimas dan Sasti hingga ke titik tertinggi dalam kehidupan ini…
Dan Saya Hanya Tinggal Melihat Lapisan Perak Besok…
Ada breaking news jam delapan malam tadi
Sang orang nomer satu memasuki istana dan tegak berdiri
Mengaku selama dua minggu ia menahan diri
Tak peduli orang orang di luar dan di jalanan berdemo setengah mati
Hal pertama yang diungkapkannya justru perkara misteri bank Century
Dan petang tadi serangkaian pelanggaran dan penyalahgunaan wewenang di bank itu sejatinya telah terbukti
Tapi saat pengambilan keputusan soal itu dulu, saya sungguh sedang berada di luar negeri
Begitu sanggah sang presiden yang kelihatan berhati hati sekaligus ngeri
Biarkan saja kalau parlemen mau melempar bola panas bernama hak angket
Biarkan saja kalau kasus ini mau ditelusuri dengan menggunakan pasal pasal karet
Toh hasilnya juga akan tetap mbulet dan cuma bikin mumet
Saya miris membaca komentar macam itu, yang pastilah terasa di kuping banyak orang seperti kena silet
Pooh is Crazier than Eeyore: T-R-I-J-I dan Satu Tahun Cahaya di Negeri Seribu Satu Malam…
Ada acara menarik yang ditayangkan oleh semua televisi di Arden Wood kemarin malam. Apakah itu sinetron yang menguras air mata atau mengajak orang hidup di awang awang? Bukan. Apakah itu film box office bertabur bintang Hollywood atau Bollywood? Juga bukan. Lantas apa? Yah, tak lain tak bukan adalah breaking news yang menampilkan sang jagawana berpidato menyatakan sikapnya atas kasus cicak dan buaya yang belum menampakkan tanda tanda berkesudahan hingga kini. Mirip bola salju yang terus menggelinding dengan gumpalan yang makin hari makin membesar, perseteruan tersebut kian menyeret semakin banyak korban plus menyerempet sekian banyak nama termasuk sang jagawana sendiri. Publik pun merasa resah, gerah sekaligus geram menanti sang orang nomer satu merespon rekomendasi dari tim yang dibentuknya sendiri. Perlu hampir seminggu menunggu apa yang bakal jadi sikap orang lapis pertama di Arden Wood itu. Karenanya, saat kemarin malam ia berpidato di depan tivi, semua memilih menyaksikannya, termasuk Kenza, Pooh dan teman temannya yang lain. Kebetulan Ken memang sendirian di rumah karena kedua orang tuanya tengah ada urusan di kota. Mencari teman, Ken mengundang kawan kawannya dari Hundred Acre Wood untuk bertandang dan menginap di rumahnya. As he wish, they were there: menonton bareng di ruang keluarga sambil menyanding aneka cemilan dan minuman favorit masing masing. Kunyah ini kunyah itu, reriungan akrab itu sesekali bertepuk tangan meriah, sesekali bilang huuu.. dengan mimik menyeringai dan geleng geleng kepala. Christopher Robin yang asyik mengunyah popcorn cuma bergumam, silly old opera!
Elegi Idul Adha Buat Almarhum Ayah Terkasih
Idul Adha atau hari raya qurban besok akan diperingati di seluruh dunia setelah wukuf di padang Arafah dijadwalkan akan berlangsung hari ini. Saya berharap, cuaca di sana tak akan terlalu panas atau malah terlalu dingin sehingga para calon haji dapat menjalankan puncak ibadah dengan khusyuk dan lancar. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya berdoa agar Tuhan melapangkan jalan saya dalam mencari seperak dua perak hingga kelak saya boleh berada di muka Ka’bah, di antara jutaan tamu tamu Allah yang sungguh mulia itu. Sampai saya berhasil merengkuh impian itu, saya harus puas hanya berqurban. Sudah menjadi kebiasaan di rumah, saya berqurban untuk diri sendiri atau untuk anggota keluarga yang lain. Saya memutar giliran sedemikian rupa hingga tak ada yang terlewat setiap tahun. Namun, tahun lalu saya nyaris berbuat kesalahan fatal. Ya, sebenarnya ibu sayalah yang mendapatkan jatah. Saya sama sekali tak kepikiran untuk sekaligus mengeluarkan dana qurban bagi ayah saya yang memang sudah sakit sakitan. Toh bisa tahun depannya lagi, begitu kata benak saya saat itu. Tapi entah kenapa, percakapan antara saya dengan ayah pada suatu sore seminggu sebelum shalat Id telah menggerakkan hati saya untuk sekalian saja membelikan beliau kambing. Dan akhirnya, saya pun membeli dua ekor kambing. Satu untuk ibu dan satu lagi untuk ayah. Tak terduga sama sekali, ternyata itu adalah persembahan atau qurban terakhir bagi ayah. Tiga bulan selepas Idul Adha, ayah saya berpulang. Andai saya waktu itu kukuh hanya membeli satu ekor kambing, maka pastilah saya menyesal setengah mati! Menyesal karena ternyata ayah saya tak lagi bersama saya, bersama kami pada Idul Adha besok. Sungguh saya telah diselamatkan dari kebodohan paling parah dalam sejarah hidup saya oleh Sang Mahabijak. Dan itu benar benar pelajaran berharga yang saya dapatkan dari Lebaran Haji tahun lalu…
Menanti Kiriman Cek dari Langit: A Little Giving for A Real Pleasure and A bit of Surprise
Usai shalat Idul Adha pagi ini di sebuah lapangan yang tak terlalu luas di dekat rumah, saya prihatin melihat begitu banyak koran koran yang dipakai sebagai alas shalat bertebaran di segala penjuru. Alih alih memungut dan melipat koran tersebut untuk kemudian dibuang ke tempat sampah atau dikumpulkan di salah satu sudut jalanan agar bisa diambil oleh satu dua tukang sampah atau tukang abu gosok yang lewat siang nanti, para jamaah kebanyakan langsung bergegas melipat sajadah ataupun mukena, memakai sandal dan segera kembali ke rumah atau ke tempat pemotongan hewan qurban yang telah ditentukan. Hanya sedikit saja di antara mereka yang mengambil kembali, membereskan lipatannya dan meletakkan alas shalat tersebut jadi satu di tepi jalan. Alhamdulillah, saya berada di golongan mereka yang sedikit itu. Bukannya saya sok bersih atau sok tahu karena berani beraninya nasihatin orang lewat tulisan ini. Hanya saja saya miris mendapati betapa kelakuan membiarkan koran koran berantakan setelah shalat usai sebenarnya sama sekali berlawanan dengan pesan hari raya yang disampaikan oleh pengkhotbah di mimbar. Saya pikir makna Idul Qurban sejatinya adalah mengajak setiap orang untuk secara kontinyu menjadikan pengorbanan sebagai spirit yang diterapkan dalam kehidupan sehari hari dan bukan sebatas jargon basi belaka. Artinya, qurban dalam bentuk penyembelihan kambing atau sapi memang dilakukan pada hari hari ini. Namun, qurban dalam arti mau sedikit capek agar orang lain bisa ikut tersenyum atau agar lingkungan tetap bersih dan asri harus selalu digemakan sebagai lagu wajib setiap pribadi. Dalam skala yang paling sederhana, contohnya ya antara lain dengan mengambil kembali sisa sisa koran bekas alas shalat dan tak membiarkannya bertebaran menjadi sampah di mana mana. Saya rasa, itu sama sekali bukan hal yang merepotkan untuk dikerjakan, bahkan oleh seorang anak yang baru duduk di taman kanak kanak sekalipun. Betul kan?
A-B-C is What We Need, A-B-C is What We Keep, A-B-C is What We Grib…
Seorang perempuan muda dinyatakan positif hamil oleh dokter kandungan yang memeriksanya
Selamat ya, Bu, janin telah enam minggu usianya
Jaga makan, jangan stress dan tetap beraktifitas seperti biasa saja
Tapi, jangan lupa periksakan si jabang bayi setiap bulan sesuai jadwalnya
Yang jelas, selalu ingat A-B-C, ya…
Keluar dari ruang praktek si ibu muda murung
Tak tahu apa yang bisa dilakukan karena air mata tak bisa dibendung
Apa yang harus dilakukan agar keluarganya bisa menerima aib ini hingga ia tak perlu minggat ke rumah sahabat lama di Bandung
Pikirnya, ini memang salahku sendiri karena nekad kucing kucingan alias backstreet dengan seorang laki laki badung
Sungguh, ini karena aku tak pernah ingat A-B-C sebagai pelindung
‘Aku Ada Uang Sepuluh Ribu dan Besok Aku Janji Mau Membelikan Kakek Obat Batuk’
Di sebuah panti asuhan untuk anak anak yatim piatu, seorang bocah laki laki berusia sepuluh tahun duduk di beranda menanti satu satunya sahabat yang dimilikinya. Sahabat itu– seorang laki laki tua pedagang gorengan yang dipanggilnya dengan sebutan Kakek– akan selalu menyempatkan diri setiap sore datang menemui si bocah, tak peduli hari hujan ataupun terang. Saat datang, tak lupa ia selalu membawa tas plastik berisi sisa dagangannya yang hingga sore belum juga laku terjual. Kadang masih banyak, kadang hanya tinggal beberapa potong. Kadang berisi singkong, ubi atau tahu goreng dan ada kalanya cuma combro ataupun misro. Si bocah akan dengan gembira menerima oleh oleh tersebut karena di panti memang jarang disediakan makanan ringan. Yang ada hanyalah makan tiga kali sehari dengan menu yang telah ia hafal di luar kepala: nasi putih, sayur labu yang encer kuahnya dan satu potong tempe goreng ataupun kerupuk melarat. Jadi, bisa makan gorengan adalah sebuah nikmat yang selalu dinanti setiap saat.
Setiap kali sahabatnya itu mengangsurkan tentengan yang dibawanya, maka sebagai gantinya, sang bocah yang bertubuh ramping dan berambut ikal itu akan menyerahkan lembaran kertas putih yang dilipatnya menjadi aneka bentuk. Kadang ia lipat menjadi bentuk perahu, kadang ia buat menjadi tempat sirih atau kijang kijangan. Kalau ia telah kehabisan akal atau sedang terburu buru, ia akan melipat tiga kertas tersebut, mirip seperti undangan kenduri yang selama ini dikenalnya.
Macam macam isi kertas kertas yang diberikannya kepada laki laki tua itu. Kebetulan si bocah senang menggambar sekaligus menulis. Sering ia menggambar tentara membawa senapan setiap kali ia usai menonton film perang di televisi. Kadang ia menggambar dokter membawa stateskop saat ia merasa itulah cita cita yang kelak ia pilih. Kerap pula ia menggambar mobil, gajah, jerapah atau gunung gunung berikut pohon dan sawah serta tiang listrik. Saat ia menyerahkan tulisan, maka isinya adalah sebuah surat ataupun puisi sederhana yang sering membuat si laki laki tua terharu hingga tanpa disadarinya, satu dua tetes air bening muncul di ujung ujung matanya yang katarak.
Life is A Lot Simpler When What We Honor is Mother and Father Rather Than All Major Credit Cards!
Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun tengah kesal kepada ibunya yang tiga hari belakangan ini terus mengabaikan keinginannya untuk minta dibelikan kaos bergambarkan tokoh kartun favoritnya. Kata si ibu, kaos kakak sudah banyak dan baru sepuluh hari yang lalu ia dibelikan telpon genggam sederhana yang bentuknya mirip dengan model yang sedang naik daun saat ini. Saat makan malam, si anak berulah dengan tak sesendokpun makanan masuk ke mulutnya. Ia sesenggukan dan lari menuju kamarnya di lantai atas. Biarlah, paling juga langsung tidur dan besok saat bangun pagi, ia telah melupakan masalahnya, begitu pikir sang ibu. Bergegas membereskan sisa sisa makanan dan piring piring kotor, ia terkejut mendapati putrinya turun lagi sambil membawa selembar kertas penuh tulisan. Ia menyerahkan kertas tersebut kepada ibunya sambil merengut.
Di kertas itu tertulis demikian:
- Ongkos untuk bangun pagi selama seminggu: tiga puluh ribu
- Ongkos untuk mandi pagi tanpa air hangat: sepuluh ribu
- Ongkos untuk belajar selama enam jam di sekolah: lima puluh ribu
- Ongkos untuk membantu mengasuh adik sore hari: dua puluh ribu
- Ongkos membukakan pagar saat ayah pulang kantor : dua ribu lima ratus
- Ongkos menyapu rumah saat Bibik sedang sakit: dua puluh ribu
- Ongkos disuruh ibu ke minimarket membeli dot adik: lima ribu
- Ongkos untuk tidur sendiri di kamar atas: tiga puluh lima ribu
- Denda karena ibu lupa membelikan majalah: dua ribu lima ratus
- Denda karena ibu tak mau membelikan kaos favorit: lima puluh ribu
TOTAL UTANG IBU : –dua ratus dua puluh lima ribu rupiah saja–
Setelah Rumahmu Terbakar, Kau Bisa Melihat Bulan:’Kenapa Mesti Ribut Hanya Karena Ada Bolong di Tengah yang Tak Bisa Dimakan? Toh, Donat itu Kan Yang Enak dan Lezat Justru di Pinggir Pinggirnya!’
Saat turun main atau istirahat setelah separuh pelajaran hari itu terlampaui, dua siswa sekolah dasar tampak asyik bercengkerama sambil makan kue donat dan minum teh dingin. Anak yang pertama kelihatan sangat menikmati setiap gigitan kue itu sementara anak yang satu lagi tampak ogah ogahan memandang satu satunya pengganjal perut yang masih tersisa di kantin sekolah siang itu. Sekedar iseng, kalau kepada anak yang disebut terakhir itu ditanya mengapa ia aras arasen atau tak bernafsu makan donat, maka jawabannya adalah karena, ‘Apa enaknya makan kue yang tengahnya tak bisa dimakan? Kue kok yang bisa digigit cuma pinggirnya aja. Gak salah tuh yang dulu pertama kali punya ide bikin kue dengan bentuk seperti ini? Namun, andaikan pertanyaan serupa ditanyakan kepada anak yang pertama, si penggila donat, maka ia akan serta merta menjawab, ‘Kenapa mesti ribut hanya karena ada bolong di tengah yang tak bisa dimakan? Toh, yang enak dan lezat kan justru di pinggir pinggirnya!’ Kedua jawaban itu betul dan sama sama masuk akal. Bedanya cuma kacamata si anak yang melihatnya. Anak yang pertama mengenakan kacamata optimis sementara anak kedua memandang dari sisi pesimis. Kata orang bijak sih, kita melihat segala sesuatu bukan seperti ia apa adanya, tetapi seperti apa adanya diri kita. Dan kelihatannya memang benar begitu…
One Fine Day When Three Beggars Meet and Greet Each Other at Jembatan Penyeberangan Depan Gedung Parlemen
Siapapun pasti bangga bila kenal atau berteman dengan orang orang tenar atau publik figur seperti pejabat pemerintah, direktur perusahaan ataupun selebriti. Seorang teman saya yang rada snob selalu mengklaim dirinya dekat dan punya akses langsung secara pribadi kepada seorang menteri. Secara atraktif, teman itu akan dengan bangga menunjukkan betapa ia semalam baru telpon telponan dengan Bunda–begitu sang menteri disapa– atau betapa hari Minggu lalu ia baru berkunjung ke rumah keluarganya di daerah Kebayoran Baru dan diajak berenang di sana. Saya pikir sih, so what dan terserah saja bila ia puas dan pede bercerita seperti itu, yang rasanya kok agak gimana gitu. Yang jelas, saya tak punya teman publik figur dan sejenisnya. Justru teman extraordinary yang saya miliki adalah seorang pengemis yang setiap hari mangkal di jembatan penyeberangan di depan gedung parlemen, Senayan. Kala suatu siang menyambanginya usai lunch di seputar kawasan itu, saya membawakannya sekardus makanan. Katanya, ‘Kemana aja dari sejak bulan Puasa kok gak pernah lewat jembatan ini lagi. Takutnya Mbak sakit atau kenapa.’ Kalimat sederhana yang akan terdengar basa basi belaka kalau itu keluar dari mulut seorang pejabat atau selebriti. Tapi saat yang mengucapkannya cuma orang biasa yang sering dipandang sebelah mata oleh lingkungan, saya merasa itu laksana segentong air dingin yang disuguhkan kepada orang yang tengah kehausan di siang bolong.
‘Hei, Bos Laundry, Kau Betul Betul Tiruan Sempurna Diriku, Ya!’
Sekian belas tahun silam ketika internet belum mewabah seperti sekarang, sebuah penerbit berinisiatif mengumpulkan berbagai tulisan inspiratif perihal pandangan anak terhadap orang tuanya. Mereka yang memiliki pengalaman atau kisah kisah unik seputar topik itu diminta menuliskan surat dan mengirimkannya ke alamat kotak pos penerbit tersebut. Surat-surat yang masuk dinilai satu per satu. Bila dianggap menarik, pengalaman mereka akan dimuat dan dijadikan satu dengan kisah kisah lain hingga pada saat yang telah ditentukan bakal diterbitkan dalam bentuk buku.
Sebuah kisah yang dikirimkan oleh seorang laki laki pengusaha sukses berisikan seperti di bawah ini:
Sebagai yatim piatu, sejak usia tujuh tahun aku diasuh dan dianggap anak oleh seorang perempuan yang hidup sebatang kara dan bekerja sebagai buruh cuci sekaligus tukang seterika pakaian keliling. Aku memanggilnya ibu sejak hari pertama aku tinggal dengannya di sebuah rumah petak yang uang kontraknya dibayar setiap bulan di muka. Tak seperti kebanyakan pekerja rumah tangga yang umumnya mempunyai tangan kapalan dan kasar, tangan ibu halus dan lentik. Pakaian ibu pun selalu rapih sekalipun cuma lungsuran dari para pelanggannya. Wajah ibu bersih dengan perawakan yang semampai kendati kulitnya memang agak kecoklatan.
…dan Tampar Aku Kalau Mulai Aneh Aneh: Antara Jakarta-Jogja Ada Asmara Lirih Yang Terus Bergema…
Sudah lewat pukul sepuluh malam ketika seorang perempuan tepekur di depan layar komputernya beberapa saat setelah gendang telinganya lamat lamat menangkap dua bait lagu yang sangat ia kenal. Ya, itu lagu cinta dirinya dengan sang pangeran, yang dulu sering mereka putar melalui tape recorder atau diperdengarkan oleh radio di mobil kala bepergian bersama. Entah mengapa, sejak siang tadi ia teringat akan laki laki yang dulu pernah begitu dekat dengannya sepuluh tahun silam. Ah, mungkin ini pengaruh cuaca yang seharian mendung hingga membuatku mellow, desahnya. Ia perempuan berusia matang berwajah cukup manis yang hingga kini masih melajang. Bukan karena workaholics atau tak laku, tapi karena ia memilih tetap menghidupkan kenangannya kepada laki laki yang dulu dikiranya bakal menjadi suaminya.
Tujuh tahun kebersamaan menguap sia sia tatkala laki laki yang dicintainya itu lebih mengikuti garis tangannya sebagai suami orang ketimbang terus melangkah bersamanya. Dari awal, ia sama sekali tak tahu kalau kekasihnya telah menikah dan karenanya, ia membiarkan perasaannya hanyut bersama harapan yang dianggapnya sama dan sebangun dengan apa yang dimiliki kebanyakan perempuan, termasuk dirinya: punya pacar—menikah—punya anak—jadi ibu dan seterusnya. Saat tahu kondisi laki laki itu sebenarnya, pada tahun kelima hubungan mereka, perempuan itu sudah kepalang basah. Hatinya telah sepenuhnya menjadi milik laki laki yang sosoknya sangat nJawani namun kokoh itu. Tak mungkin berpaling, tak mungkin berhenti. Cuma, ia masih punya hati nurani dan pikiran jernih hingga demi kebaikan diri dan keluarganya sendiri sekaligus nama baik laki laki itu di mata famili serta rekan rekannya, ia memilih meninggalkan pujaan hatinya itu tanpa sepatah kata pun empat tahun lalu.
Jangan Tunggu Jarjit Bertindak dan Jangan Sampai Negeri Ini Berubah Jadi Jeruk Purut: Ayo Tebarkan Spirit Kurban dan Bukan Tebalkan Spirit Korban!
Membaca atau mendengarkan berita hari hari ini sungguh sangat melelahkan dan bikin getir. Betapa tidak, baru adem kasus Bibit Chandra, muncul perkara— sebetulnya udah rada basi—penyelamatan bank kolaps yang oleh banyak pihak disinyalir beraroma political hazard karena menjadi ajang bancakan untuk kepentingan golongan tertentu dalam pemilihan umum yang baru lalu. Orang nomer dua dan seorang menteri yang paling bertanggung jawab untuk keputusan tersebut kini tengah meriang jadi bulan bulanan publik. Ada yang membela, lebih banyak yang menista. Memanas dan berpotensi jadi kompor meledug, tiba tiba publik dikejutkan oleh pernyataan sang orang nomer satu yang intinya berbunyi: Saya kena fitnah, saya jadi sasaran tembak dan karenanya, saya layak geram dan kesuh. Kepada khalayak, ia mengungkapkan bahwa pada Rabu, 9 Desember bakal terjadi gerakan sosial yang berbau motif politik. Jelasnya, akan ada megaaksi yang ke dalamnya ditiup-tiupkan upaya mendongkel pemerintahan yang baru berumur kurang dari seratus hari!
Sumpah, saya miris dan tragis menyaksikan berbagai pihak bersilat kata demi membela ataupun menyumpahserapahi pernyataan tersebut. Banyak yang bilang presiden paranoid, begitu gegap gempita yang menyebut statemennya malah menciptakan kecemasan dan kegelisahan baru bagi awam, lumayan riuh rendah yang bilang itu dimotori oleh barisan sakit hati yang tak kebagian jabatan dan sebagainya. Di luar itu, banyak juga yang tak mau terbakar oleh percikan api curhat sang orang nomer satu itu dan memilih tetap tenang, tak mau overreactive sampai melihat dengan mata kepala sendiri apa yang bakal terjadi pada kemungkinan aksi masif memperingati hari antikorupsi internasional tersebut.
Lantaran tak mau terjebak dalam polarisasi pro kontra pernyataan presiden tersebut, saya memilih mencermati berbagai komentar awam. Ya komentar awam dan bukan analisis para tokoh ataupun pengamat yang bagi saya pribadi, bisa diibaratkan kerap memercikkan tetesan jeruk nipis di atas borok menganga yang mulai dihinggapi lalat di negeri ini. Tapi mau gimana? Biarlah itu urusan mereka yang paham dan gemar berdiskusi. Sementara saya, asyik menikmati yang ringan yang lucu saja dari kegaduhan politik tersebut. Dan ternyata, pendapat publik justru lebih segar, hidup dan lucu. Ada yang bilang, 60 persen rakyat negeri ini tertipu oleh pemain topeng; ada yang berkata too much talk will kill you dan ada juga yang usil berujar, ‘giliran diminta ngomong, diem. Eh, pas tenang malah ngomong! Capek deh’…dan seterusnya. Lumayan orisinil kan aneka komentar awam itu? Saya pikir pikir, kalau saya harus memberi pendapat juga, maka saya akan mencontoh kelihaian Jarjit, anak India keling teman sekolah Upin dan Ipin yang jago berpantun tapi unpredictable itu. Ya, saya akan bilang due tige pergi sekolah, raja alim raja disembah; due tige beli majalah, raja lalim raja disanggah. Dan satu lagi biar mantap, due tige awak bersumpah, banyak orang yang bisanya cuma bikin masalah! Gimana, sounds pretty cool, isn’t it? Hahaa…
Time When Little Brothers Cry, Time When Mother Receives ‘Big Bonus’, Time When Father Suffers from Vertigo
Ibuku seorang pejabat negara. Ya, ibuku pejabat atau tepatnya seorang menteri yang kini menjalani masa bakti kedua di kabinet yang baru dilantik dua bulan lalu. Sebelum ini, ibu juga menduduki jabatan yang sama, di kursi yang sama. Ia juga sempat selama sekitar satu setengah tahun merangkap sebagai pelaksana tugas rekannya yang berganti jabatan. Orang bilang, ibu cantik dan pintar. Tapi buat aku dan adik adik, ibu lugas, tegas dan pandai bicara. Maksudku, karena latar belakang ibu sebelumnya adalah dosen dan peneliti, maka soal menjelaskan sesuatu yang teoritis dan pelik menjadi perkara mudah baginya dan aku cukup bangga karenanya.
Tak seperti lima tahun sebelum ini di mana ibu terlihat begitu bergairah dan selalu bersemangat menjalankan tugasnya, kudengar sudah dua minggu ini ibu mengeluh tak enak badan, pusing dan batuk batuk. Tepatnya seperti apa, aku juga belum terlalu paham karena aku cuma mendengar kabar itu dari ayah. Yup, kemarin ayah menelponku dan dari nada suaranya ia terdengar gelisah dan tak seperti biasanya.
‘Ibu sakit’, begitu kata ayah dan, ‘kalau bisa, kamu pulang dulu sebentar ke Jakarta.’ Sekarang ini aku memang tengah menuntut ilmu di negeri kanguru, kuliah mengambil jurusan perdagangan dan hukum. Beberapa tahun lalu selepas SMA aku meninggalkan ibu, ayah dan dua orang adikku untuk terbang ke Australia melanjutkan pendidikan tinggi. Kenapa ke sini dan bukan ke Amerika atau Eropa, karena, kata ibu, Australia relatif lebih dekat dari Jakarta. Dan aku menurut saja. Whatever you say, mum!
Pergilah kemana Jin akan Membawamu: Metode ‘Nyeleneh’ tapi Jitu, Penawar Nelangsa di Panggung Ketoprak…
Adzan subuh bergema cukup nyaring dari masjid di dekat rumah ketika Mak Upit perlahan lahan membuka mata dan mengucapkan doa bangun tidur dalam hati. Sekian menit bermalas malasan sejenak di tempat tidur, ia lantas beranjak dari kasur dan melipat selimut. Sebagai perempuan yang tinggal berdua saja dengan putra semata wayangnya, Rahman, sebenarnya ia tak perlu bergegas bangun pagi pagi seperti sekarang karena toh, ia tak lagi punya kewajiban melayani suami. Ya, Mak Upit adalah janda yang ditinggal mati oleh suaminya tiga tahun lalu karena sakit. Sejak saat itu, ia seorang diri membesarkan Maman, begitu Rahman biasa disapa. Sehari hari, Mak Upit mencari nafkah dengan menerima jahitan, terutama pakaian perempuan. Langganannya alhamdulillah cukup banyak karena meskipun ia tak pernah kursus menjahit, namun sejak masih gadis ia menyukai ketrampilan itu dan kerap mempraktekkannya. Kala ayah Maman masih hidup, kepiawaiannya menjahit tak terlalu tersalurkan karena waktunya habis digunakan untuk mengurus putranya yang kini telah duduk di bangku kuliah itu. Sekarang, karena ia perlu biaya besar untuk menyekolahkan Maman, jadilah ia seorang penjahit.
Biasanya Mak Upit tak bangun sepagi ini. Namun, hari ini adalah pengecualian karena ia mesti menyiapkan bekal buat sang anak yang rencananya akan ikut demo memperingati hari antikorupsi internasional. Perempuan sederhana lulusan sekolah kepandaian putri itu baru tahu soal tersebut semalam ketika anaknya yang bertubuh kurus, berambut lurus dan bermata jernih laksana mata bayi itu sebelum tidur mengingatkannya agar ia dibangunkan lebih pagi dari biasanya. ‘Bangunkan aku jam lima, Mak. Aku mau siap siap buat aksi demo soalnya,’ ujar Maman.
Your Wish is My Command:Kali Ini Saya Tak Merasa Perlu Menjawab Pesan Itu Karena Saya Hanya Mau Berpikir yang Baik Baik Saja
Seorang teman pagi ini mengirimi saya pesan singkat berbunyi: ‘Ternyata benar kedutan itu pertanda buruk. Aku terima kabar buruk semalam…dia lebih memilih perempuan yang dijodohin neneknya buat dia. Aku bingung mesti gimana ya, Mbak? Aku sedih banget.’ Teman saya itu memang seharian kemarin dilanda resah karena sang pacar mengatakan ingin menemuinya secara khusus untuk membicarakan perkara serius semalam. Arah obrolan sebenarnya cuma dua saja: akan melanjutkan hubungan mereka yang baru berumur delapan bulan ke jenjang yang lebih serius atau menghentikan semua sampai di situ saja karena nenek si laki laki telah menyodorkan kepadanya calon istri yang masih saudara jauh.
Teman saya yang berwajah manis dan berambut panjang tergerai itu sejatinya telah merasa tidak enak sejak dua hari lalu dan karenanya, ia curhat kepada saya selama perjalanan kami pulang kemarin petang. Menyimak dengan tekun apa yang dikatakannya, saya berempati atas problemnya itu. ‘Ini bukan yang pertama. Dulu juga beberapa kali begitu. Heran, setiap ketemu orang yang kayaknya pas, ndilalahnya kok selalu ada aja hambatannya. Masak mau begini terus sih aku, Mbak?’ tanyanya.
Fatwa O..la…la from Mister Bejo Slamet di Pagi Cerah Kala Aku Membolos Kerja dan Sarapan Nasi Uduk
Sebagai pegawai swasta yang bergaji sekitar tiga juta rupiah saja per bulan, aku merasa tak nyaman dan kerap berpikiran untuk pindah kerja ataupun alih profesi. Bukannya tak bersyukur ataupun kemaruk, tapi sebagai laki laki dengan tiga anak yang satu di antaranya berusia taman kanak kanak dan dua lainnya di sekolah dasar serta seorang istri yang sepenuhnya mengurus rumah tangga, aku sering kehabisan nafas dan bingung harus berakrobat seperti apalagi agar semua kebutuhan hidup dari hari ke hari bisa terpenuhi sepenuhnya. Pekerjaan sambilan memang satu dua kali kulakukan ketika ada teman kantor atau sahabat yang meminta tenagaku untuk menerjemahkan dua tiga lembar dokumen di luar jam kantor. Hasilnya jelas tak menentu dan kalaupun sedang ramai, hanya cukup untuk belanja tiga atau empat hari saja.
Istriku sebenarnya belakangan ini mencoba menambah sumber pemasukan dengan cara kulakan daster batik kepada ibu ibu di lingkungan tempat tinggal kami maupun di sekolah anak anak. Modalnya didapat ketika setengah tahun lalu ia memperoleh arisan sekitar lima juta rupiah. Sebagai suami, aku menyambut baik niatnya meringankan bebanku itu. Dan kelihatannya, usaha istriku itu mulai menampakkan hasil meski belum bisa dibilang besar. Hhmm…salut! Salut atas kemauannya untuk tak begitu saja menyerah kepada nasib. Tak seperti aku yang di luar sepengetahuannya ternyata sering kecut hati dan kerap menimbang nimbang untuk mencari pesugihan ke Gunung Kawi!
Telepon Ang(k)et Ang(k)et K***k Ayam yang Menyelamatkan Hari Seorang Komikus Strip…
Sebagai seorang pembuat komik strip di sebuah harian ibu kota, setiap hari aku mesti mencari ide ide segar yang nantinya kutuangkan sebagai percakapan bagi tokoh tokoh dalam komik bikinanku. Aku belumlah sehebat dan seterkenal seperti duo kartunis handal dewasa ini—Benny & Mice— yang celotehnya selalu dinanti oleh fans fanatik mereka. Meskipun demikian, para penikmat dan pengamat komik mengatakan bahwa aku mempunyai talenta besar untuk menjadi jawara di bidang ini. Mantap kan?
Ide ide yang kuperoleh umumnya kugali dari berbagai kejadian yang tengah marak diperbincangkan atau sedang menjadi sorotan publik hari hari ini. Kalau bulan lalu aku berkali kali membuat banyolan atau sindiran dengan menjadikan cicak dan buaya serta seorang bandar bermata sipit yang mengaku diperas habis habisan dalam kasus itu sebagai multitokoh sentral, maka sekarang ini benakku tengah berkutat dengan urusan perseteruan antara seorang menteri dengan mantan rekannya pada kabinet sebelum ini, yang dikenal sebagai pebisnis dan ketua umum sebuah partai yang terus menerus gagap dan terseret seret mengikuti arus utama yang berkembang sejak era reformasi bergulir mulai satu dasa warsa silam.
Berbagai sudut pandang dan kritik usil telah kulemparkan dan sejauh ini aku puas dengan karyaku. Pihak editor pun kelihatannya setuju setuju saja dengan joke ataupun sentilan yang kuketengahkan. Respon pembaca pun sejauh ini masih proporsional dan syukurlah, mereka kebanyakan memuji kartun buatanku.
Tapi hari ini aku tengah kehabisan ide. Apa lagi yang mau kutembak dari carut marut sengketa kedua tokoh itu bersama latar kelam yang menaungi kasus penyelamatan bank kecil yang kolaps hingga harus diselamatkan pemerintah akhir tahun lalu, yang kupikir cepat atau lambat akan memasuki titik jenuh bagi publik.
Hingga tengah hari, aku belum juga mendapatkan sisik melik yang pas untuk komik yang akan tayang besok. Sumpek dan tak tahu harus bagaimana, aku sengaja melepas lelah di mushola kantor usai shalat zuhur dengan tidur tiduran selama beberapa waktu. Selang sekian lama, tiba tiba seorang temanku menjawil bahuku. Katanya, ‘Cepat bangun, itu ada telepon dari Sri Mulyani!’
Perawan Tua Putri Masinis Kereta Api yang Menanam Pohon Kamboja di Halaman Rumahnya
Aku perempuan lajang berusia jauh di atas tiga puluh lima. Sebagai seorang editor madya di sebuah penerbit buku yang terbilang berkualitas, hari hariku sangat padat. Pagi aku terjaga menjelang subuh dan punya banyak waktu untuk bermalas malasan di tempat tidur sebelum akhirnya bangun untuk shalat subuh serta bersiap siap mandi dan berangkat ke kantor sekitar pukul setengah tujuh. Aku baru kembali ke rumah sekitar pukul delapan atau sembilan malam dengan membawa setumpuk berkas ataupun dokumen yang harus kupelajari di rumah. Kadang, aku memang sengaja memboyong pekerjaan ke rumah semata mata demi membunuh sepi.
Aku tinggal seorang diri di sebuah kompleks perumahan sederhana di pinggiran Jakarta. Rumahku mungil saja dengan dua kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Setiap pagi dan sore, Mbak Yani datang ke rumah untuk bersih bersih dan mencuci pakaian. Ia sekaligus memasakkan makanan untukku karena aku sama sekali tak bisa memasak.
Halaman rumah yang cuma beberapa belas meter persegi saja berjejalan kutanami pepohonan seperti pohon belimbing dan pohon pisang kipas. Sejumlah tanaman gantung dalam pot juga kutempatkan di sana seperti anggrek, kaktus dan cocor bebek. Kalau ada satu pohon yang mempunyai arti tersendiri bagiku, maka itu adalah pohon kamboja yang tegak berdiri di pojok halaman selama lima tahun terakhir ini.
Banyak teman ataupun orang yang kala bertandang ke rumahku bertanya tanya mengapa ada pohon kamboja di halaman rumah. Kata mereka seperti berusaha menakut nakutiku, tidakkah itu berarti simbul kematian, kesedihan dan sejenisnya?
Dan aku menjawab ya dan tidak! Berarti ya, karena memang pohon itu adalah simbul kandasnya cintaku sepuluh tahun silam hingga menggerogoti nafas mudaku. Berarti tidak, karena sebenarnya pohon itu adalah penanda kebenaran dari alam untuk almarhum ayahku.
Ada apa memangnya dengan ayahku? Tak lain tak bukan karena pada kartu tanda penduduk ayah terdapat tanda huruf E kecil berwarna merah. Ya, ayahku terindikasi anggota partai terlarang di negeri ini. Ayahku— laki laki berkulit sawo matang, bertubuh kurus dan gemar memelihara burung tekukur— yang bekerja sebagai masinis kereta api itu ditengarai bersimpati pada ajaran palu arit!
Saturday Afternoon in The Park When Langgam Meets An Old Lady in Light Red
Seorang bocah laki laki berusia sembilan tahun baru kelar mengaji pada Sabtu sore yang cerah ketika arloji plastik berlatar gambar Naruto di pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengah lima. Biasanya, tanpa perlu dijemput ia akan langsung pulang ke rumah untuk menonton film kartun favoritnya di tivi. Tapi kali ini, ia memutuskan akan berjalan jalan dulu ke sebuah taman yang kerap dilewatinya saat pulang sekolah. Kala seorang temannya bertanya, ‘Mau apa kau pergi ke sana?’, sang bocah menjawab lugas, ‘Aku ingin bertemu Tuhan!’
Teman temannya tertawa berderai derai mendengar jawaban yang aneh itu. Bukan apa apa, anak laki laki berwajah tembam dan berambut mirip Bart Simpson itu sejatinya sering ketiduran saat mengaji hingga kerap ketinggalan pelajaran dan membuat Haji Dullah berkali kali menegurnya. ‘Langgam, bangun! Kau ini kalau mau tidur jangan di madrasah. Tidur saja di rumah!’ sentak guru mengajinya itu.
Tapi hari ini, bocah itu tak sedetik pun pulas karena sudah sejak tadi pagi ia ingin bertemu langsung dengan Tuhan untuk bercakap cakap barang beberapa menit dan mengeluarkan uneg unegnya. Aku pokoknya mau minta Play Station seri terbaru, desisnya berulang ulang.
Selama ini yang diketahuinya dari pelajaran dan buku buku agama, Tuhan itu Mahapengasih, Mahapemberi dan maha maha lain yang menyertai sifatnya. Jadi, kalau hanya mengharapkan sebuah Play Station pastilah bukan sesuatu yang sulit untuk dipenuhi, pikirnya. Beberapa kali ia telah minta ayah dan ibu untuk membelikannya. Tapi jawabnya selalu saja nanti nanti dan malah, kalau ayah sedang sibuk dengan pekerjaannya menggambar rumah karena ia seorang arsitek, Langgam sering dihardik dan diminta menyisih. ‘Sana main di luar! Ayah sibuk sekali dan tak mau diganggu!’ begitu ucapan ayahanda yang selalu ia ingat.
*